SEHARI DI KAMPUNG BUDAYA SINDANG BARANG BOGOR


Tahukah kamu bahwa di kaki gunung Salak terdapat sebuah desa yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai adat budaya sunda? Yap! Tempat tersebut dikenal dengan Kampung Budaya Sindang Barang Bogor.

Mungkin, saya tidak akan pernah tahu eksistensi tempat ini kalau tidak mengikuti family trip bersama teman-teman blogger dari komunitas 'Indonesia Corner' beberapa waktu lalu dengan tajuk 'Telisik Kampung Budaya Sindang Barang'.

Sebagai orang yang sudah lama tinggal di Bogor, hal ini cukup mengejutkan. Sebab saya tidak pernah menyangka kalau dizaman millenial seperti saat ini ternyata masih ada segelintir orang yang mau mempertahankan budaya leluhur. Saya cukup tertampar karna kurang peka terhadap budaya sendiri.


Teman-teman blogger di Stasiun Bogor
Pagi itu sekitar pukul 6.30 saya sudah bergegas menuju stasiun Bogor. Tempat ini menjadi titik kumpul para peserta famtrip 'Telisik Kampung Budaya Sindang Barang'. Satu persatu peserta berdatangan. Ada yang dari Jabodetabek dan ada juga yang datang dari Jawa Tengah, wow jauh sekali ya. Salut!

Setelah semua peserta terkumpul, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Sindang Barang menggunakan mobil angkot yang telah disewa.

Untuk teman-teman yang tidak ingin menyewa kendaraan bisa juga naik angkutan umum, rutenya yaitu:

- Dari stasiun Bogor naik angkot jurusan Mall BTM.
- Sampai di Mall BTM naik angkot jurusan Ciapus Sindang Barang. Biasanya stiker angkot tertulis SBR. Selanjutnya tinggal bilang ke abang supir untuk turun di Kampung Budaya Sindang Barang. Jangan sampai salah naik angkot karna ada juga jurusan Ciapus tetapi tidak turun di Sindang Barang.


Papan petunjuk jalan menuju Kampung Budaya Sindang Barang
Kalau kamu menggunakan kendaraan pribadi, kamu bisa mengandalkan Google Maps. saya sarankan untuk bertanya juga ke warga sekitar. Entah mengapa titik kordinat di Google maps tidak terlalu akurat. 

Namun, kamu tidak perlu khawatir karna disetiap tikungan ada papan petunjuk jalan menuju Kampung Budaya Sindang Barang.


Pemain angklung menyambut kedatangan kami
Setelah melalui perjalanan sejauh 5km dari pusat kota Bogor akhirnya saya sampai di Desa Pasir Eurih Kecamatan Taman Sari, Bogor. Untuk benar-benar sampai di Kampung Budaya Sindang Barang saya harus turun dari parkiran mobil dan melanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 100m menuju Kampung Budaya Sindang Barang.

Dari kejauhan sudah terdengar suara lantunan musik khas sunda. Saya pun mempercepat langkah kaki karna sudah tidak sabar ingin sampai di Kampung Budaya Sindang Barang.

Setelah sampai di pintu masuk, para pengunjung langsung disambut oleh ornamen musik angklung yang dimainkan oleh ibu-ibu dan remaja penduduk sekitar. Tentram sekali rasanya.


Berfoto di alun-alun Kampung Budaya Sindang Barang
Daya Tarik utama yang saya lihat di Kampung Budaya Sindang Barang yaitu jejeran lumbung padi yang dalam bahasa sunda disebut 'leuit'.  Sayangnya ada beberapa bangunan lumbung padi yang sedang direnovasi. Namun, hal itu tidak jadi masalah karna tidak mengubah keotentikan Kampung Budaya Sindang Barang. Atmosfir budaya sundanya masih terasa kental.


Lumbung Padi Sindang Barang
Sebelum saya menceritakan keseruan selama mengikuti trip ini, saya ingin membahas terlebih dahulu tentang latar belakang Kampung Budaya Sindang Barang.

Kampung budaya Sindang Barang diyakini sudah ada sejak abad ke XII. Kampung ini memiliki beberapa kesenian sunda yang masih dilestarikan oleh penduduknya dengan tujuan untuk meneruskan kearifan lokal dari tradisi leluhur.

Bale Riungan
Denah Kampung Budaya Sindang Barang
Kampung Budaya Sindang Barang memiliki 22 bangunan adat yang masih berdiri kokoh, seperti Lumbung padi, Saung Lisung, Imah Adat, Imah Gede dan lain-lain.

Siapapun boleh datang ke sini, hanya dengan tarif Rp20.000 kita sudah bisa menikmati panorama kampung Budaya Sindang Barang yang asri. Adapun daftar harga paket lainya dapat di lihat melalui situs berikut ini: Klik disini


Seorang gadis sedang mengikat padi di depan Lumbung Padi
Salah satu ritual tradisi Sunda yang menjadi ciri khas Kampung Budaya Sindang Barang adalah Seren Taun. Seren Taun merupakan suatu bentuk penjelmaan rasa syukur warga atas rezeki hasil panen mereka selama satu tahun, sekaligus pengharapan untuk hasil panen yang lebih baik di tahun berikutnya.

Serentaun telah ada sejak zaman Kerajaan Pajajaran pada abad ke 16 dan masih berlangsung hingga sekarang. Seren Taun dilaksanakan tiap tahun dan dipimpin oleh ketua adat. (Wikipedia)

Sayangnya publikasi upacara adat seren taun masih belum gencar, sehingga tidak banyak orang yang tahu kapan acara ini akan di selenggarakan.

Berikut ini saya buatkan video stopmotion yang menjelaskan tentang adat seren taun.




Pelatihan menulis dan fotografi
Tak hanya menikmati suasana Kampung Budaya Sindang Barang saja, di sini saya juga bisa menimba ilmu bareng mbak Donna Imelda selaku travel blogger dan mbak Raiyana selaku Travel Photographer.

Banyak pelajaran yang bisa kucuri dari mereka, dari mulai cara menulis blog yang baik sampai tata cara pengambilan foto yang benar.

Saat ini blogger memang dituntut untuk bisa segala hal. Tak hanya menulis konten saja yang berkualitas tapi juga harus pandai mengambil foto yang bagus.


Pada dasarnya setiap orang cenderung menyukai informasi dalam bentuk visual. Itulah mengapa sebuah foto harus bisa 'berbicara' dan memiliki cerita pada saat kita melihatnya.



Saat ini skill fotografi memang harus dimiliki oleh setiap blogger. Sebuah postingan blog akan lebih hidup jika diselipkan beberapa gambar. Apalagi kalau gambar yang diunggah terlihat profesional, para pembaca pasti akan betah berlama-lama membaca blog kita.

Mbak Raiyana juga menjelaskan bahwa ada beberapa angel foto yang dapat kita gunakan saat memotret. Seperti Eye angel, Low angel dan High angel. Semua materi fotografi yang disampaikan Mbak Raiyana langsung saya aplikasikan saat menonton pertunjukan seni budaya yang disajikan oleh tim kesenian dari Kampung Budaya Sindang Barang.



Para peserta terjun langsung ke alun-alun Kampung Budaya Sindang Barang untuk praktik fotografi menggunakan kamera Fujifilm
Di Kampung budaya Sindang Barang terdapat 8 macam kesenian Sunda yang telah direvitalisasi dan dilestarikan oleh para penduduknya. Berikut ini beberapa hasil foto yang saya peroleh saat menjajal kamera Fujifilm sambil menonton pentas seni di Kampung Budaya Sindang Barang.

Hasil foto saya memang masih jauh dari kata sempurna, tetapi saya akan tetap belajar dan mengembangkan skill fotografi saya supaya hasilnya semakin bagus lagi.

ANGKLUNG GUBRAK


Angklung gubrak merupakan alat musik tanpa tangga nada yang terbuat dari bambu. Angklung Gubrag biasa dimainkan oleh kaum hawa karna musik berhubungan dengan dewi kesuburan. Biasanya ornament ini dimainkan untuk penyambutan tamu agung, pernikahan adat, dan di berbagai ritual dalam seren taun. 

RAMPAK GENDANG



Rampak dalam bahasa sunda berarti serempak atau bersama-sama. Itulah mengapa tarian Rampak Gendang dibawakan oleh dua orang atau lebih. 

Rampak Gendang dimainkan dengan cara menabuh gendang menggunakan stik. Tak hanya itu, pemain juga turut bergoyang mengikuti irama sambil berteriak dengan semangat sehingga membuat pertunjukan semakin meriah.

KAULINAN BARUDAK



Hasil bidikan kamera Fujifilm X-T100 (Dok: Evi Indrawanto)


Hasil bidikan kamera Fujifilm X-T100 (Dok: Evi Indrawanto)
Dalam Bahasa Sunda kaulinan barudak artinya permainan anak-anak. Itulah mengapa permainan ini dibawakan oleh anak-anak. Adapun pertunjukkan yang dibawakan yaitu beberapa permainan tradisional seperti  oray-orayan (ular-ularan), egrang, cingciripit,  hahayaman dan lain-lain.

Untuk menambah kemeriahan pertunjukkan, anak-anak ini turut menari sambil diiringi lagu oray-orayan. 

Oray orayan, luar léor mapay sawah,
Entong ka sawah, Paréna keur sedeng beukah.

Orang-orayan
Luar-léor mapay kebon
Entong ka kebon, di kebon loba nu ngangon.

Mending gé ka leuwi, di leuwi loba nu mandi
Saha anu mandi
Anu mandina pandeuri.

Oray-orayan
Oray naon? Oray Bungka
Bungka naon? bungka laut
Laut naon? Laut dipa
Dipa naon? Dipandeuri riririri … 

TARIAN MOJANG PRIYANGAN



Terik matahari terasa semakin panas. Namun, pertunjukkan masih terus berlangsung. 

Kali ini beberapa anak perempuan membawakan sebuah tarian yang disebut Mojang Priyangan. Dalam bahasa Sunda Mojang Priyangan artinya gadis dari tanah sunda. 

Ritme gerakan tarian ini cenderung cepat dan gemulai. Tarian ini menjadi salah satu ikon kesenian Jawa Barat yang sering ditampilkan dalam acara-acara penting.

PENCAK SILAT CIMANDE


Hasil bidikan kamera Fujifilm X-T100 (Dok: Evi Indrawanto)
Penampilan berikutnya yaitu Pencak Silat Cimande. Kesenian beladiri ini dimainkan oleh beberapa orang laki-laki dengan memakai kostum berwarna hitam.

Selengkapnya tentang pertunjukkan Pencak Silat Cimande dapat kamu tonton melalui video berikut ini:




TARI MERAK




Tari Merak adalah salah jenis tarian yang cukup terkenal dikalangan Sunda. Tarian ini diambil dari tingkah laku seekor burung merak. Gerakan gemulai yang dibawakan oleh para penari terlihat indah mempesona.

PAREBUT SEENG

Hasil bidikan kamera Fujifilm X-T100 (Dok: Evi Indrawanto)
Penampilan terakhir dari pentas ini yaitu seni beladiri Parebut Seeng yang memiliki arti berebut seeng (tungku nasi). 

Parebut Seeng dimainkan oleh dua orang laki-laki dimana salah satunya menggendong seeng dan laki-laki lainya berusaha mengambil seeng tersebut. 

Biasanya kostum dalam seni brladiri Parebut Seeng menggunakan baju berwarna hitam yang dikenal dengan bajunkamlret. Adapun teknik beladiri yang digunakan yaitu dari silat Cimande. 

Filosofi seeng atau tungku bermakna kesejahteraan, sedangka tungku yang diperebutkan berati bentuk pengendalian diri dari hawa nafsu.




Kamera Fujifilm milik teman
Usai menyaksikan pertunjukan seni, saya segera mengecek beberapa hasil foto yang sudah saya bidik menggunakan kamera Fujifilm pinjaman. Hasilnya cukup memuaskan.

Sebagai pengguna baru kamera Fujifilm hal ini membuat saya tercengang sebab fitur dalam kamera Fujifilm cukup mudah dipelajari. Apalagi kamera yang saya pegang berjenenis mirrorless, jadi pengoperasiaanya terasa sangat simple. 

Hal yang paling saya suka dari kamera Fujifilm adalah design bodynya yang klasik dsn stylish, Autofocusnya juga terbilang cepat dan Beratnya lebih ringan daripada kamera lainya yang setipe. 

Setelah menjajal dua kamera Fujifilm tipe Fuji XA 3 dan Fuji XT 100 saya jadi kepikiran untuk upgrade kamera ke Fujifilm. Tapi saya masih harus menunggu berbulan-bulan untuk menabung agar semua dana terkumpul hehe. 



Tak jauh dari Kampung Budaya Sindang Barang terdapat Rumah Sutera yang merupakan tempat memproduksi benang dan kain sutra. Rumah sutera ini sudah berdiri sejak tahun 2003. Di sini kita bisa melihat proses pembuatan kain sutera dari mulai telur ulat sampai menjadi selembar kain sutera kwalitas 100% alam.

Saat memasuki Rumah Sutera kami langsung bertemu dengan Pak Ian. Beliau  adalah pemandu yang akan mengajak kami mengelilingi Rumah Sutera seluas 4 hektar ini.


Kang Ian sedang menjelaskan macam-macam daun murbei kepada pengunjung
Perjalanan dimulai dari kebun murbei lalu ke tempat penangkaran ulat sutra, pabrik pemintalan kokon (kepompong), tempat penenunan dan berakhir di gallery yang menjual aneka produk kain sutra, teh murbei hingga kerajinan tangan dari kepompong ulat sutra.

Kain sutra yang dijual di gallery ini dibanderol dengan harga yang beragam, dari harga ratusan ribu sampai ratusan juta rupiah. Saya rasa harga kain sutera yang melambung tinggi setara dengan proses pembuatanya yang cukup panjang.

Nah, berikut ini saya buatkan infografis bagaimana seekor ulat mampu menciptakan sebuah kain sutra berdaya jual tinggi.


Selengkapnya tentang rumah sutera dapat kamu klik infonya disini.



Baiklah teman-teman sampai di sini dulu cerita perjalanannya ya. Sebelum menutup laman ini tak ada salahnya untuk menonton vlog keseruan saat berkunjung ke Kampung Budaya Sindang Barang Bogor. Jangan lupa klik like dan subscribe ya. See you :)

 

12 komentar:

  1. Wah bagus banget nih Kak tempatnya, selain itu banyak juga pertunjukannya yang ada

    BalasHapus
  2. Seru banget nih Kak perjalanan ke Kampung Budaya Sindang Barang ini. Bagus banget

    BalasHapus
  3. Keren banget nih Kak fotonya. Pingin deh belajar fotografi gitu hehe

    BalasHapus
  4. Kawassan yang etnik banget. Pengin banget kunjungi Kampung Sindang Barang Bogor.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo udah pengen mah pasti bakal dipermudah :v

      Hapus
  5. Seru banget konten yang satu ini lengkap! Tulisan ada, foto ada, video ada, infografik ada pula! Keren banget, Kak :D BTW, pertunjukkan di sini ada setiap hari atau ada jam-jamnya, ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Weeh terimakasih sudah mampir kesini.
      Pertunjukkan ini ada sesuai pesanan paket aja, biasanya perfom kalau ada rombongan yang banyak gitu.

      Hapus
  6. Foto-fotonya apik kak, keren ya setia melestarikan budaya Sunda..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berkat belajar fotografi di SIndang Barang kemarin haha

      Hapus

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search