KHAIRULLEON.COM

BERLAYAR KE PULAU GEDE KEPAYANG YANG BIKIN MABUK KEPAYANG,



Untuk memahami cerita kali ini ada baiknya kamu membaca postinganku sebelumnya Di Sini.

Setelah puas lompat-lompat di hamparan batu granit dan menikmati surga bawah laut Pulau Lengkuas, akupun melanjutkan perjalanan menuju pulau Gede Kepayang.

20  menit perjalanan menggunakan perahu akupun tiba di tepi pantai pulau Gede Kepayang. Tak jauh dari bibir pantai terdengar dentuman musik EDM dari salah satu bangunan yang sepertinya itu adalah restoran, terlihat banyak orang makan sambil senda gurau.

Setelah kudekati ternyata benar, itu adalah restoran. Ah Tepat sekali, perutku memang sudah lapar.



Masuk kedalam restoran aku dan beberapa teman langsung mencari bangku ternyaman untuk makan. Mengingat pengunjung disini sangat membludak, wisatawan di dominasi oleh bule, jarang sekali ada wisatawan pribumi.

We went here after snorkeling. Our lunch was pre-ordered at the Funtacy Seafood.

Sambil menunggu pesanan datang kami bisa mengambil minuman sendiri di salah satu meja yang telah disulap menjadi perahu nelayan. Atau mungkin sebaliknya perahu nelayan di sulap jadi meja ? who knows O.o.

Di meja ini disediakan minuman teh hangat. Menurutku ga nyambung sekali cuaca panas di pantai tapi minumnya teh hangat. Namun, Aku ga heran karna pulau ini masih bagian dari Indonesia jadi tidak bisa terlepas dari budaya minum teh. Benar kata iklan sebelah, apapun makananya minumnya teh anu.



Tidak beberapa lama akhirnya pesanan kami datang, ada nasi, ikan gangan khas Belitong, cumi-cumi goreng, kangkung, kepiting ukuran besar dan masih banyak lagi beragam seafood yang tidak bisa kusebutkan satu-persatu namun tidak mengurangi rasa hormatku. *loh

Tanpa menunggu komando kami langsung melahap semua makanan yang tersedia di atas meja. Wow, semuanya enak-enak, namun yang jadi favoriteku yaitu kepiting raksasa ini.


 The lunch was plentiful and pretty delicious, you should try the crab and the grilled fish

Setelah kenyang makan siang kami beristirahat sejenak sambil menikmati pesona pulau Gede Kepayang yang instagramble. Air lautnya sangat jernih, ombaknya juga tidak terlalu besar sehingga sangat cocok untuk berenang. Namun, karna aku sudah puas snorkeling di Pulau Lengkuas jadi aku hanya bermain pasir saja di bibir pantai.




This is the last island to take rest n lunch after one day island tour. Seafood will be served for lunch. If you allergic with seafood better you bring yourown food.



Puas bermain-main di sekitar pulau pengunjung bisa melanjutkan hopping Island kebeberapa Spot menarik lainya seperti Pulau Pasir, Pulau Batu Berlayar, atau Pulau Lengkuas. Namun, biasanya Pulau Gede Kepayang menjadi tempat terakhir ketika hopping Island.

Hari sudah mulai gelap, perahuku mulai berjalan menjauhi bibir pantai pulau Gede Kepayang untuk kembali pulang ke Pantai Tanjung Kelayang. Kapan-kapan kalau ada kesempatan lagi aku mau banget mampir kesini untuk mencicipi kepiting raksasa yang enak ga karuan.

Terimakasih pulau Gede Kepayang, kamu sudah membuatku mabuk kepayang.

Tonton Vlog nya disini :




3 SPOT TERBAIK UNTUK MENIKMATI SUNSET DI BELITONG


Salah satu aktifitas yang paling sering ku lakukan saat traveling yaitu berburu sunset, apalagi kalau travelingnya ke daerah pantai pasti sunsetnya akan terlihat sempurna.

Bagiku melihat sunset merupakan moment yang sangat tepat untuk menjernihkan pikiran. Bahkan berdasarkan penelitian  yang dilakukan oleh University of Miami, menyebutkan bahwa menyaksikan sunset alias matahari terbenam dapat memberi energi positif yang dapat menghilangkan depresi/stress.

Oleh karna itu, saat liburan ke Pulau Belitong aku menyempatkan diri menjelajah ke berbagai tempat untuk berburu sunset. Berikut ini 3 lokasi menarik untuk menikmati sunset di Belitong.

BUKIT BERAHU




Sebagian orang mungkin masih sangat asing dengan Bukit Berahu, mengingat lokasi ini berada tersembunyi di kaki bukit. Akupun mungkin tidak akan tahu jika guide tour tidak membawaku ku ke tempat ini.

Nama Bukit Berahu sendiri diambil dari bentuk bukitnya yang menyerupai perahu terbalik jika di lihat dari kejauhan. Tepat di kaki bukit terdapat pantai cantik yang biasa di gunakan turis untuk berwisata.



Untuk menuju pantai Bukit Berahu kamu harus menuruni anak tangga yang jumlahnya sekitaer 96 buah, kalau ga salah ngitung loh ya. Tapi tenang saja kamu tidak perlu merasa lelah karna semuanya akan terbayar setelah kamu sampai di pantai. Fasilitas yang menarik dapat kamu gunakan untuk leyeh-leyeh sambil menunggu matahari terbenam.

Di bawah bukit ini banyak sekali arena bermain seperti ayunan, tempat hangout, atau hamparan bebatuan yang instagramable banget untuk foto-foto kekinian.




Di bukit Berahu juga terdapat fasilitas lainya yang sangat lengkap seperti cottage, Bungalow, Villa, restoran, dan Kolam renang dengan view pantai yang mempesona. Akupun sempat ingin renang disini tapi katanya harus bayar akhirnya aku urungkan niat haha.




Kalau kamu merasa lapar, kamu juga bisa memesan makanan atau minuman lalu menikmatinya di bangku resort yang mengarah ke laut, O iya cuaca disini terasa adem karna banyak pepohonan di sekitar resort.

Nah jika kamu tertarik ingin menikmati sunset di bukit Berahu, kamu cukup  berjalan ke Desa Tanjung Binga, Kecamatan Sijuk, Belitung dari pusat kota tanjung Pandan hanya memakan waktu sekitar 45 menit.



PANTAI TANJUNG PENDAM



Pantai Tanjung Pendam berada dekat di jantung kota Belitong, jadi kamu tidak akan keuslitan untuk menemukanya. Bisa dibilang pantai ini merupakan tempat wisata yang paling terkenal di Belitong, mengingat pantai ini tidak pernah sepi pengunjung.

Bahkan saat aku berkungjung ke sini sudah banyak sekali wisatawan yang memenuhi area pantai. Ada yang duduk-duduk di taman, berjalan-jalan di atas pasir atau bermain air di bibir pantai yang ombaknya tidak terlalu besar.



Aku memang sengaja datang saat sore hari dengan tujuan untuk menikmati sunset. Sayangnya saat itu cuaca kurang bersahabat, matahari tidak terlihat sempurna karna tertutup awan setelah itu tiba-tiba turun hujan yang cukup deras jadi aku tidak dapat melihat matahari kembali keperaduanya.

Namun walaupun begitu, aku tetap senang karna sempat melihat sekilas matahari di Pantai Tanjung Pendam. Cerita serunya saat para pengunjung di  diguyur hujan bisa tonton di Video ini.


PANTAI TANJUNG KELAYANG


Pantai Tanjung Kelayang terletak di kecamatan Sijuk Pulau Belitung, berjarak sekitar 27 kilometer dari pusat kota Tanjung Pandan. Saat kamu berada di Pantai Tanjung kelayang maka bersiaplah kamu akan mabuk kepayang. Serius aku gabohong, view disini instagramable banget.

Pantai ini menjadi tempat pertamaku saat menyaksikan fenomena ajaib batu granit yang banyak bertebaran di bibir pantai. Walaupun jumlah batunya tidak sebanyak di pulau tanjung tinggi atau Pulau Lengkuas tetapi Pantai ini memberikan firts impression yang tak terlupakan.




Dari pantai ini kamu juga bisa menuju ke pulau-pulau lainya yang tidak kalah menarik seperti Pulau Batu Berlayar, Pulau Pasir, Pulau lengkuas dan pulau Gede Kepayang.

Setelah menelusuri berbagai pulau tersebut kamu akan kembali ke Pantai tanjung Kelayang saat senja. Disaat itulah pantai Tanjung Kelayang akan menampakkan kecantikan matahari terbenam.

Nah, Itulah 3 spot menarik di Belitong yang bisa kamu kunjungi untuk menikmati sunset. Dari ketiga lokasi tersebut manakah yang paling kamu suka ?

PENDAKIAN EKSTREM GUNUNG TERTINGGI DI JAWA TENGAH - MT. SLAMET 3428 MDPL + INFO BUDGET DAN TIPS


Setelah sekian lama hiatus dari dunia pendakian akhirnya aku punya kesempatan untuk mendaki lagi Yaay!. Honestly, diri ini memang sudah rindu kepada gunung, ingin rasanya mencium aroma hutan dan menikmati sunrise dari ketinggian sambil nyeruput teh manis atau menyeduh indomie rebus di semak-semak.

Memang benar apa kata orang 'gunung itu seperti narkoba, bikin candu', coba saja kalau tidak percaya.

Pendakian kali ini aku memilih gunung Slamet sebagai target pendakian. Ini merupakan pendakianku yang kesembilan (kalo ga salah sih, coba cek sendiri di postinganku yang sebelumnya hee).

Gunung Slamet merupakan 'Gunung Triple S' pertama yang aku daki. Triple S yaitu gunung Slamet, Sindoro dan Sumbing. Semoga dalam waktu dekat aku bisa menuntaskan triple S ini, Ayo semua diaminkan :)

Gunung Slamet sendiri terletak di lima kabupaten yaitu Kabupaten Brebes , Banyumas , Purbalingga , Tegal, dan Pemalang. Pokoknya ada di Jawa Tengah deh. Untuk menuju ke sana aku menggunakan mobil bus 'Sinar Jaya' jurusan Purwokerto lalu minta diturunin di Bumiayu.



Biasanya kalau dari Bogor bus ini mangkal di terminal Baranang Siang. Harga tiketnya sendiri sekitar 90 ribuan, fasilitas AC namun tempat duduknya sangat sempit. Tapi tidak apa-apa aku tetap bersyukur, karna dengan bersyukur segala yang sempit akan terasa lapang. hhh

Sebetulnya aku ingin naik kereta Api, namun harga dan waktu keberangkatan tidak ada yang match. Nah lain kali kalau mau naik kereta harus booking tiket dari jauh-jauh hari ya rul :).

Dari Bogor aku berangkat bareng kedua anggota baru di komunitas FATAPALA yaitu Ahmad Pujianto dan Mukhlis. Sebetulnya masih banyak  anggota yang ingin ikut tapi cuma ingin-ingin saja, ujung-ujungnya ga jadi. Orang-orang macem gini yang bikin gondok yes :)

Jarak tempuh dari Bogor ke Bumiayu menghabiskan waktu sekitar 9 jam. Berhubung kami berangkatnya ba'da ashar jadi kami sampai di lokasi tujuan sekitar jam 12 malam.

Saat itu Bumiayu sedang diguyur hujan, tak tahu ingin berteduh dimana akhirnya kami numpang istirahat di mushala pom bensin Sakalibels yang ada AC nya, Alhamdulillah nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan ?

E tapi setelah itu kami di usir ding karna ga boleh tidur di dalam mushala. Ya sudah aku istirahat di pinggir kolem saja, sesekali ke emperan toko ngemis receh hehe.

Setelah 5 jam nge gembel akhirnya Rivaldi datang. Dia orang Sirampog yang bersedia menjadikan rumahnya sebagai meeting point.

Setelah sampai di rumah Rivaldi kami segera numpang makan gratis dan melakukan packing ulang, memasukkan berbagai perlengkapan pendakian kedalam tas Carier. Seperti biasa aku kebagian membawa persediaan air segalon. Encok-encok dah :)

Tepat pukul 10 pagi kami berpamitan kepada kedua orang tua rivaldi lalu langsung cabut menuju bascamp gunung Slamet Via Guci - Tegal. Gunung Slamet sendiri memiliki beberapa jalur yang dapat kita gunakan untuk memulai pendakian, diantaranya yaitu :
  • Jalur gunung Slamet via Bambangan - Purbalingga
  • Jalur gunung Slamet via Kaliwadas - Brebes
  • Jalur gunung Slamet via Guci - Tegal
  • Jalur gunung Slamet via Baturaden - Purwokerto
  • Jalur gunung Slamet via Dukuhliwung
  • Jalur gunung Slamet via Kaligua - Bumiayu

Kami sengaja memilih Jalur Guci karna lokasinya lebih dekat dari Sirampog dan anti mainstrem. Biasanya para pendaki lebih banyak memilih jalur Bambangan di Purbalingga.

Saat dalam perjalanan menuju Guci Tegal kami sempat mengalami berbagai accident yang penuh drama. Motor Ahmad mati mendadak, motor rivaldi spakboardnya lepas (ada-ada aja), sedangkan motorku oleng di tanjakan karna mesinya tidak kuat.

Untung saja motorku jatuhnya pakai efek slow motion jadi tidak ada kerusakan yang terlalu parah hanya saja bensinya bocor dan ngucur ke mana-mana haha. But so far akhirnya kami sampai juga dengan selamat. Ini semua berkat bantuan dari warga sekitar. Terimakasih untuk bapak-bapak yang entah siapa namanya. Moga kalian diberi balasan yang setimpal :).



Memasuki kawasan Wisata Guci kami melewati gerbang loket terlebih dahulu. Disini kami harus membayar uang masuk wisata guci Rp. 6400/orang dan motor Rp. 1000/unit. Disini kami juga sempat bertanya kepada petugas tentang basecamp pendakian.

Lalu Pak penjaga mengatakan di Jalur Guci terdapat dua basecamp pendakian yaitu Basecamp Kompak dan Basecamp Gupala. Namun, kami direkomendasikan melalui jalur Kompak karna viewnya lebih bagus dan alami, begitu katanya. Walau sebetulnya kedua basecamp ini sama aja sih karna masih di satu kawasan :)

Btw, KOMPAK merupakan kepanjangan dari Komunitas Pecinta Alam Pekandangan.




Sampai di Basecamp Kompak kami segera membayar uang simaksi Rp. 15.000 dan uang parkir motor Rp. 5.000/unit. Selain itu kami juga menyewa beberapa alat pendakian yang belum lengkap seperti tenda, matras dan alat masak.

Sepertinya kami harus membeli alat pendakian sendiri nih supaya nanti kalau mau main outdoor ga perlu sewa-sewa lagi. Atau ada yang mau endorse aku ga ? *kodekeras




Selesai registrasi kami segera memulai pendakian. Tidak jauh dari bascamp terdapat air terjun kecil yang sangat jernih. Disini kami menyempatkan diri main air sejenak sambil melakukan ritual doa bersama, memohon kepada Allah agar diberi keselamatan baik saat naik gunung maupun saat turun kembali.




BASECAMP KOMPAK - POS 1 (PONDOK PINUS 1500 MDPL)


Dari basecamp Kompak menuju Pos 1 menghabiskan waktu sekitar 90 menit. Trek disini masih landai dan tidak membuat capek. Sepanjang perjalanan terdapat jajaran pohon pinus dan perkebunan sayur milik warga.

Pos 1 ini diberi nama Pondok Pinus, mungkin gara-gara terdapat banyak pohon pinusnya. O iya, petunjuk arah di jalur Kompak patut di acungi jempol sebab sangat terawat. Bahkan di tiap-tiap pos diberi papan nama yang terlihat jelas. 

POS 1 (PONDOK PINUS 1500 MDPL) - POS 2 (PONDOK CEMARA 1580 MDPL)


Dari Pos 1 menuju Pos 2 memakan waktu sekitar 90 menit. Namun, kami hanya menempuhnya dalam waktu 60 menit saja. hebat kan ?

Trek di jalur ini sudah mulai curam tapi kami tetap enjoy menjalaninya. Disini juga sudah mulai jarang ada pohon pinus, kebanyak pohon-pohon liar yang ukuranya lumayan besar.

Dibeberapa jalur juga banyak pepohonan yang tumbang, jadi kamu harus tetap berhati-hati jika melewati jalur ini yes.

POS 2 (PONDOK CEMARA 1580 MDPL) - POS 3 (PONDOK PASANG 2129 MDPL)


Trek menuju pos 3 terbilang cukup landai. Waktu yang ditempuh juga relatif lebih cepat hanya 60 menit saja. Namun, di jalur ini pendaki akan melewati semak belukar tinggi.

Sampai di pos 3 kami istirahat sebentar sambil melaksanakan shalat Zuhur dan Ashar. Setelah pukul 4 sore kamipun melanjutkan pendakian menuju pos 4.

POS 3 (PONDOK PASANG 2129 MDPL) - POS 4 (PONDOK KEMATUS)


Trek menuju pos 4 terbilang cukup sulit karna kita akan melewati rimbunan pohon perdu. Jarak tempuhnya juga relatif lama yaitu sekitar 150 menit.

Namun, di pos 4 ini terdapat sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk minum dan masak. Sumber air ini berada di bawah sungai yang sudah mengering, jadi untuk mengambil airnya kita harus turun tebing menggunakan tambang.

POS 4 (PONDOK KEMATUS) - POS 5 (CANTIGI / PLAWANGAN)

Hari sudah gelap saat kami sampai di pos 4. Sedangkan untuk mencapai pos 5 kami membutuhkan waktu sekitar 70 menit. Tidak ingin berlama-lama kamipun melanjutkan perjalanan di tengah kegelapan.

Jalur pendakian menuju pos 5 terbilang cukup ekstrim. Disini kami melewati banyak sekali pepohonan tumbang dan terowongan kecil yang lumayan panjang.




Btw, terowongan ini diberi nama Terowongan Cinta. Mengapa bisa begitu ? karna pendaki yang melewati jalur ini pasti akan sewot sekaligus senang karna tas karier yang dibawa akan tersangkut berkali-kali di bibir terowongan.

Namun, walaupun kesulitan kami tetap saja  merasa senang karna bisa menertawakan pendaki lain yang merangkak dan kejedot di dalem terowongan haha. Inilah yang dinamanakan senang diatas penderitaan orang lain yang haqiqi.

Hari sudah mulai gelap tetapi kami belum juga sampai di Pos 5. Terpaksa kami harus menghentikan pendakian karna sudah terlanjur capek. Beruntung kami berhenti di salah satu gubuk kosong yang tak berpenghuni, jadi kami bisa memanfaatkanya untuk berteduh sekaligus mendirikan tenda. O iya, gubuk ini disebut Pondok Edelweis.

Seperti biasa setelah mendirikan tenda kami langsung menunaikan shalat dan masak-masak. Setelah itu baru beristirahat dan masuk kedalam sleeping bag masing-masing.

Sialnya tenda yang kami sewa ternyata sangat kecil, tidak cukup untuk menampung sampai 5 orang. Merasa tak peduli kamipun memaksakan diri untuk masuk ke tenda, alhasil kami harus tidur berdempetan, Mau bergerak sedikit saja susahnya naujubillah.

Tapi karna sudah terlalu lelah jadi mataku cepat terpejam walaupun saat tengah malam berkali-kali terbangun karna ada badai haha.

Pukul 4 pagi alarmku berbunyi itu artinya kami harus melanjutkan pendakian menuju summit, harapan kami dapat sampai puncak sebelum sunrise tiba.

POS 5 (CANTIGI/PLAWANGAN) – PUNCAK GUNUNG SLAMET

5 menit berjalan dari pondok edelweis tiba-tiba kami sampai di pos 5. Lah ternyata jaraknya dekat banget cuy, tinggal salto juga nyampe. Andai saja semalam kami berjalan sedikit saja mungkin akan bisa ngecamp di Pos 5 bareng pendaki lainya. Pos 5 memang lokasi yang ideal untuk mendirikan tenda.

E tapi sebenernya ngecamp di pondok edelweis ada untungnya juga sih, justru lebih tentram karna tidak ada suara gaduh dari pendaki lain. Biasanya aku benci banget tuh liat ulah pendaki yang berisik, termasuk salah satunya suka memutar musik dengan volume yang kencang. Sumpah sih itu ganggu banget. Mereka fikir ini gunung bapaknya kali.




Trek dari Pos 5 menuju pucak sangat berbeda dari trek di pos-pos sebelumnya. Disini sama sekali tidak ada pohon untuk pegangan, sepanjang jalur terdiri dari batu besar, kerikil dan pasir yang sangat licin.

Menurutku, inilah trek tersulit yang kami hadapi. Selain jalanan yang terjal kemiringanya juga bisa mencapai 80 derajat alias hampir vertikal. Sedikit saja salah memilih pijakan bisa terpeleset. Bahkan Ahmad sampai tidak berani jalan berdiri, ia lebih memilih merangkak seperti spyderman, hmmm.
Waktu subuh membuat suhu gunung Slamet terasa semakin dingin. Aku semakin terseok-seok melewati trek bebatuan, sempat beberapa kali harus menghindari batu yang jatuh menggelinding dari atas gunung.

Pernah nonton film 5 CM saat salah satu pemeran kejedug batu ngegelinding dari atas gunung Semeru ? Nah kira-kira seperti itulah keadaanya. Jadi usahakan untuk tidak menundukan kepala terlalu lama yes, karena rawan batu yang terjatuh.






2.5 jam perjuangan akhirnya kami sampai di bibir kawah Puncak gunung Slamet. Namun, jika kamu ingin mencapai ‘puncak sejati’ kamu harus berjalan memutar bibir kawah selama 30 menit.

Sebagai gunung merapi aktif tidak salah jika gunung ini mengeluarkan kepulan asap  belerang yang sangat pekat. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa fenomena alam ini justru membuat gunung Slamet terlihat semakin menawan. Berkali-kali ku ucap puji syukur atas kebesaranNya telah menciptakan mahakarya yang luar biasa ini.










Setelah melakukan pendakian yang cukup melelahkan, kami mampir ke Pemandian Air Panas Guci yang berada tidak jauh dari Basecamp Kompak. Jangan khawatir kamu tidak perlu membayar uang masuk lagi ko kan tadi sudah di bayar di gerbang utama. Kamu hanya cukup membayar uang parkir saja.


Bujug Buneng Rame amat manusia

Suhu pegunungan yang dingin diguyur air hujan menjadi moment yang tepat untuk mandi air hangat. Walau pada awalnya aku enggan nyebur karna terlalu banyak orang. Namun, setelah mencobanya sekali ternyata ketagihan cuy kayak di Jepang gitu, bahkan aku sampe ga mau pulang haha.

VIDEO VLOG KESERUAN PENDAKIAN GUNUNG SLAMET VIA GUCI. JANGAN LUPA DI TONTON UNTUK MELIHAT EKSOTISME GUNUNG SLAMET DARI DEKAT.




TIPS PENDAKIAN GUNUNG SLAMET VIA GUCI
  • Pilihlah hari yang bagus untuk mendaki, usahakan jangan waktu hujan.
  • Latihan fisik seminggu sebelum hari H.
  • Persiapkan tim dan perlengkapan yang akan dibawa.
  • Tim yang solid adalah 5 - 8 orang. Jika sedikit usahakan 3 orang (1 orang harus sudah pernah naik gunung)
  • Jangan sepelekan keselamatan. Pakai sandal atau sepatu gunung dan jaket gunung. Baawa makan dan air secukupnya jangan terlalu sedikit dan jangan terlalu banyak. yang paling penting jangan melanggar peraturan dan jangan buang sampah di gunung.
  • Untuk pendakian slamet kita bisa naik pagi atau malam. Jika pagi bagusnya pukul 03 : 30 wib. jika malam pukul 18 : 30 wib.
  • Dirikan tenda di tempat yang datar dan usahakan di selimuti pohon atau semak supaya tidak terkena angin gunung langsung.
  • Jika ada anggota kelompok yang tidak bisa melanjutkan perjalanan sebaiknya di temani. Atau jika sakit parah langsung beri tau kelompok lain.
LARANGAN PENDAKI GUNUNG SLAMET VIA GUCI
  • Membuat / melewati jalur terobosan.
  • Memisahkan diri dari group.
  • Menggunakan obor untuk penerangan (musim kemarau).
  • Meninggalkan api unggun yang masih menyala.
  • Memotong / merusak dan menebang pohon.
  • Membuat tanda / petunjuk liar.
  • Merusak / memindah rambu yang ada.
  • Dilarang corat - coret di setiap kawasan gunung slamet.
  • Membuat kotor kawasan gunung slamet.
  • Melanggar pantangan setempat.
  • Mengeluh jika mendapat kesulitan.
  • Berkata kotor, berfikir negatif, menghujat.
  • Berbuat mesum baik dihutan serta gunung slamet.
  • Bukan tempat pemujaan.
  • Berlagak sombong, sok, congkak, dan melakukan hal seronoh.
  • Dilarang buang air besar serta kencing sembarangan.
  • Anjuran tidak memakai wangi - wangian (mengundang lebah datang).
  • Dilarang keras mengambil bunga edelweis.

MORE INFO
Info budget sudah kuselipkan ditulisan, namun belum termasuk biaya sewa alat dan pengeluaran pribadi. Jika ada pertanyaan terkait Pendakian Gunung Slamet  via Guci Kompak kamu bisa menghubungi kontak berikut ini :



CURUG BOJONG, SURGA TERSEMBUNYI DI PANGANDARAN


Khairulleon.com | Indonesia punya banyak banget curug alias air terjun. Saking banyaknya sampai ada saja curug yang belum terjamah manusia. Kalau tidak percaya lihat saja daerah Bogor, disana banyak sekali curug segar yang bertebaran dimana-mana. Bahkan aku sendiri yang asli Bogor belum bisa menjelajahi semua curug yang ada disini.

Mungkin suatu saat nanti aku akan membuat agenda tersendiri untuk menjelajah semua curug yang ada di Bogor. Tapi kali ini aku mau ajak kalian dulu nih main-main ke curug yang ada di Pangandaran, namanya Curug Bojong.

Curug Bojong masih satu lokasi dengan HAU Citumang dan Citumang Green Valley. Jadi jika kalian kesini, kalian akan dengan mudah menuju curug Bojong. Namun sayangnya, Curug Bojong ini masih belum familiar oleh wisatawan lokal. Mengapa bisa begitu ? baca terus sampe bawah.

JALUR BULE


Untuk menuju Curug Bojong kita harus melewati jalur hutan terlebih dahulu. Jalur ini disebut juga dengan jalur bule, sebab yang senang jalan-jalan ke hutan biasanya hanya orang bule sedangkan wisatawan lokal lebih suka lewat alternatif lain yang lebih cepat dan mudah. Memang ya masyarakat kita kayak indomie, maunya yang instan-instan saja.

Selain menuju curug Bojong, jalur bule ini juga bisa dipakai untuk menuju kawasan Citumang Green Valley. Jadi selain bisa bodyrafting kamu juga bisa mampir ke Curug Bojong. Sayangnya saat body rafting aku tidak lewat jalur bule jadi mampir ke curugnya di hari yang terpisah deh.

Nah suatu saat nanti kalau kamu ingin Body Rafting di Citumang, mintalah ke pemandumu untuk melewati jalur bule supaya liburan kamu semakin afdhal. Oke !

SURGA TERSEMBUNYI DI TENGAH HUTAN

Awalnya aku tidak tahu jika didekat HAU Citumang terdapat Curug Bojong. Namun, Kang Ajum selaku guide tour mengajak aku dan teman-teman travel blogger untuk menjelajah hutan.

Setelah 20 menit perjalanan tiba-tiba aku mendengar suara deras air terjun dari kejauhan. Tidak beberapa lama akhirnya aku dapat melihat Curug Bojong dengan pesona airnya yang jernih banget. Curugnya juga masih asri seperti belum tersentuh oleh manusia.


Ah, rasanya ingin cepat-cepat nyemplung ke Curug Bojong. Namun sayangnya aku tidak membawa baju ganti. Ah, andai saja mang Ajum cerita terlebih dahulu kalau di tengah hutan ini terdapat Curug Bojong pastilah kusiapkan semua perlengkapan underwater.



Tidak beberapa lama tiba-tiba Kang Gery nyebur ke curug, lalu diikuti mas Nuz, kang Irham dan Mbak Rian. melihat mereka kegirangan aku jadi terbius ingin nyebur juga. Yasudah tanpa pikir panjang aku langsung terjun ke Curug tanpa mempedulikan pakaianku. Padahal itu satu-satunya pakaian bersih yang kupunya.



Alhasil, saat pulang dari Citumang aku mengenakan baju kotor yang masih setengah basah. Aku ga peduli apa kata orang, mau ada yang nyi-nyir atau menganggapku gembel juga bodo amat. Yang penting aku sudah tidak penasaran lagi dengan Curug Bojong si surga tersembunyi di Pangandaran.

Btw, Curug Bojong ini sudah kubuatkan videonya loh di youtube, jangan lupa di tonton ya :)




NEW VLOG ! AYO DI TONTON !