KHAIRULLEON.COM

MENGINTIP PROSES PEMBUATAN BATIK DI PADEPOKAN PESISIR PEKALONGAN


Minggu lalu saat berkunjung ke Pekalongan saya menyempatkan diri untuk mampir sejenak ke Museum Batik. Di museum tersebut banyak tersimpan beragam kreasi batik dari berbagai daerah di Indonesia seperti Banten, Kalimantan, Garut, Indramayu, Madura, Papua dan tentu saja batik Pekalongan itu sendiri.
Dari beberapa ruang yang terdapat di museum tersebut, ada satu sudut yang sangat menarik perhatian saya, yaitu ruang praktik membuat batik.
Berbekal video tutorial pembuatan batik yang saya tonton di youtube, sayapun memberanikan diri untuk mencoba membuat batik. Mulanya saya mengambil selembar kain berbentuk persegi empat, lalu saya memasukkan canting ke dalam lilin yang sudah dipanaskan dalam wajan, setelah itu barulah saya mulai melukis batik.
Dan hasilnya, ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi. Membuat batik tidak semudah yang saya bayangkan. Terdapat teknik khusus dan tahapan tersendiri untuk menciptakan batik yang sempurna.
Nah, dari pengalaman inilah akhirnya saya penasaran untuk mencari tahu lebih banyak tentang batik.







Hasil batik saya ?

Bagi saya, batik tidak hanya berperan sebagai warisan budaya saja tapi juga menjadi nafas kehidupan rakyat Indonesia.
Sebagai contoh, saat adik saya dilahirkan kedunia ia langsung di bungkus dan di gendong menggunakan kain batik. Saat kakak saya menikah, ia menggunakan kain batik sebagai gaun pernikahannya, atau saat ayah saya meninggal dunia beliau diselimuti dengan batik hingga detik terakhir sebelum dimasukkan keliang lahat.
Tanpa kita sadari batik memiliki nilai yang sangat erat dengan kehidupan kita. Sehingga sudah sewajarnya bagi kita untuk mencintai dan melestarikan batik.
O iya, Beberapa hari yang lalu saya terpilih sebagai salah satu peserta Amazing Petung National Explore 2017 (APNE) yang diselenggarakan oleh PemKab Pekalongan.
Senang sekali rasanya bisa menjelajah Petungkriyono dan berkunjung ke salah satu Padepokan tempat produksi batik. Banyak sekali pengetahuan baru yang saya dapat, terutama pengetahuan tentang tata cara pembuatan batik.
Seperti yang kita tahu Pekalongan merupakan ikon batik nusantara. Siapapun yang mendengar kata Pekalongan pasti akan disandingkan dengan batik.
Masyarakat Pekalongan tidak hanya menjadikan batik sebagai mata pencaharian tapi juga sudah menjadi denyut nadi kehidupan. Sebagai bentuk kecintaan mereka terhadap batik kini di beberapa wilayah di Pekalongan sudah terdapat banyak sekali tempat khusus untuk memproduksi batik, salah satunya yaitu Padepokan Batik Pesisir H Muasif.
Padepokan yang sudah dirintis sejak tahun 1999 ini berlokasi di wiradesa, Kab. Pekalongan. Hingga kini padepokan tersebut telah melahirkan ribuan karya batik yang sudah tersebar hingga mancanegara.
Bahkan baru-baru ini H Muasif menciptakan sebuah batik cantik yang diberi nama Batik Petungkriyono. Nama ini diambil dari salah satu kecamatan di Pekalongan yang merupakan tempat ekowisata yang memiliki segudang keindahan.
Terlihat di lukisan batik tersebut terdapat motif pepohonan, jalan berliku, sungai, air terjun dan berbagai element yang menggambarkan suasana alam Petungkriyono.
Batik Pekalongan memang memiliki ciri khas tersendiri, corak flora dan fauna di kombinasikan dengan warna yang terang menjadikan batik Pekalongan terkesan berbeda dibanding batik lainya. Hal inilah yang membuat batik Pekalongan memiliki banyak peminat.
Saat memasuki kawasan padepokan, saya langsung mencium aroma lilin yang merupakan bahan utama pembuatan batik. Bangunan padepokan yang berkonsep tradisional membuat saya seperti kembali ke zaman jawa kuno.
Di sepanjang jalan menuju gerbang masuk padepokan terdapat spanduk yang berisi informasi tentang sejarah batik di Indonesia. Salah satu petikan yang saya ingat saat itu adalah bahwa batik Pekalongan sudah ada sejak 18 abad yang lalu. Oleh karna itu tidak salah jika batik Pekalongan merupakan warisan nenek moyang yang patut dilestarikan.
Memasuki gerbang Padepokan Pesisir kami langsung digiring menuju gerbang Pranggok Pesisir yang merupakan tempat para pengrajin membuat batik. Terlihat disetiap sudut terdapat para pengrajin yang sedang mengerjakan tugasnya masing-masing.
Di sini saya dapat menyaksikan bagaimana para pengrajin dengan telaten membuat batik mulai dari nol sampai menjadi sehelai kain batik yang cantik.
Adapun batik yang di buat di padepokan pesisir menggunakan teknik batik tulis. Pemandu kami mengatakan bahwa batik yang dilukis dengan tangan lebih menjiwai dibanding batik yang dibuat menggunakan alat. Sehingga wajar jika harganyapun cukup mahal.
Batik sendiri memiliki beberapa teknik dalam pembuatanya, antara lain yaitu teknik printing yang merupakan teknik pembuatan batik secara modern. Teknik cap yaitu melukis batik menggunakan alat cap dan yang terakhir teknik batik tulis yang mana lukisanya digambar secra manual mengguanakan tangan sehingga penyelesaianya bisa mencpai lebih dari 2 hingga 3 bulan.



PROSES PEMBUATAN BATIK
Untuk menciptakan satu potong kain batik biasanya memerlukan waktu yang relatif lama. Pembuatanyapun tidak ditangani oleh satu orang saja, melainkan beberapa orang yang tugasnya berbeda.
Nah adapun langkah-langkah pembuatan batik adalah sebagai berikut :
1. Siapkan peralatan membatik
Beberapa peralatan batik yang harus dipersiapkan antara lain :
  • Kain yang biasa digunakan untuk membuat batik adalah kain mori, kain katun, kain paris, kain serat nanas dan kain sutra. Namun yang paling sering digunakan yaitu kain mori.
  • Canting adalah alat yang digunakan untuk menggambar dan atau menuliskan malam/lilin panas di atas kain sesuai dengan gambar sketsa.
  • Gawangan yaitu alat yang digunakan untuk menempatkan atau membentangkan mori yang akan dibatik.
  • Wajan yaitu tempat yang digunakana untuk memanaskan malam.
  • lilin atau biasa disebut malam yaitu bahan yang digunakan untuk menutup bagian-bagian tertentu dari kain.
2. Nganji / Nyekuli
Sebelum kain mori dibatik, biasanya dilemaskan terlebih dahulu agar kain lebih mudah untuk di gambar. Caranya yaitu dengan merendam mori dalam air selama satu malam, kemudian dicuci selama ¼ jam dan direbus dalam air kanji atau tajin (air rebusan beras yang kadang diberi campuran daun bambu dan sedikit gamping).
3. Ngemplong
Setelah dikanji, kain lalu dikemplong, yaitu digulung kemudian diletakkan di atas papan atau tempat yang datar dan dipukuli dengan ganden (palu kayu).
Proses menganji dan mengemplong ini dilakukan agar cairan malam yang nantinya digoreskan diatas kain tidak terlalu meresap ke dalam serat tenunan. Dengan demikian malam dapat dengan mudah dihilangkan.
4. ngelngrengi dan nerusi

Setelah kain menjadi lemas, maka tahap berikutnya adalah ngengrengi dan nerusi, yaitu membuat pola pada mori dengan menggunakan malam.
Saat di Padepokan saya melihat dua pengrajin batik yang sedang membuat pola garuda di atas kain.
5. ngiseni / Ngisen-isen

Setelah pola terbentuk, tahap selanjutnya adalah ngiseni, yakni menggambar kain mengikuti pola yang sudah dibentuk dengan menggunakan canting.
Biasanya dalma menyanting didahului dengan mewarnai pola bagian luar terlebih dahulu setelah itu barulah mewarnai bagian dalam atau isinya (ngiseni).
Dalam proses membatik, pengrajin harus memperhatikan posisi duduk, Yaitu dengan meletakkan kompor/wajan di sebelah kanan. Gunanya untuk mempermudah mengambil malam.
6. Nemboki atau Mbiriki
Setelah menggambar batik menggunakan canting langkah selanjutnya yaitu nemboki atau mbiriki. Nemboki dilakukan untuk menutup bagian kain menggunakan malam yang tidak ingin terkena warna agar tetap putih.
7. Medel
Tahap selanjutnya adalah medel atau nyelup untuk memberi warna putih supaya hasilnya sesuai dengan yang diinginkan. Proses medel dilakukan beberapa kali agar warna putih menjadi lebih pekat.
8. Ngerok
ngerok yaitu menghilangkan lilin klowongan agar jika disoga bekasnya berwarna coklat. Alat yang digunakan untuk ngerok adalah cawuk yang terbuat dari potongan kaleng yang ditajamkan sisinya.
9. Mbironi
Setelah dikerok, kemudian dilanjutkan dengan mbironi. Dalam proses ini bagian-bagian yang ingin tetap berwarna biru dan putih ditutup malam dengan menggunakan canting khusus agar ketika disoga tidak kemasukan warna coklat.
10. Nyoga
Setelah itu, dilanjutkan dengan nyoga, yakni memberi warna coklat dengan ramuan kulit kayu soga, tingi, tegeran dan lain-lain. Untuk memperoleh warna coklat yang matang atau tua, kain dicelup dalam bak berisi ramuan soga, kemudian ditiriskan. Proses nyoga dilakukan berkali-kali dan kadang memakan waktu sampai beberapa hari. Namun, apabila menggunakan zat pewarna kimia, proses nyoga cukup dilakukan sehari saja.
11. Nglorot

Proses selanjutnya yang merupakan tahap akhir adalah nglorot, yaitu membersihkan malam. Caranya, kain mori tersebut dimasukkan ke dalam air mendidih yang telah diberi air kanji supaya malam tidak menempel kembali. Setelah malam luntur, kain mori yang telah dibatik tersebut kemudian dicuci dan diangin-anginkan supaya kering.

Hal yang menarik dari proses pembuatan batik di Padepokan H Muasif adalah kejelian para pengrajinya. Jika batik telah selesai di buat maka batik masih belum bisa didistribusikan tetapi masih dilakukan tahap akhir yaitu proses pengkoreksian.
Biasanya kain batik yang di lukis menggunakan canting selalu ada bagian yang tidak diinginkan, seperti kesalahan gambar atau warna. Sehingga kain batik harus diperbaiki sekecil apapun kesalahanya.
Adapun bagian gambar yang salah di tempeli dengan stiker berwarna sebagai tanda untuk mempermudah mencari kesalahan gambar. Setelah itu barulah kain batik di perbaiki lagi sampai benar-benar tidak ada cacat.
Itulah catatan perjalanan saya saat berkunjung ke rumah produksi batik di Padepokan Pesisir H Muasif di Pekalongan. Kini sayapun tahu bagaimana cara pembuatan batik.
Acara kunjungan hari itu di tutup dengan pameran batik Petungkriyono karya H Muasif yang sangat fenomenal. Berikut Video Vlog saat kunjunganku ke Padepokan Batik Pesisir di Pekalongan. Selamat menonton, semoga bermanfaat



SEHARI MENJELAJAH PETUNGKRIYONO, SURGA TERSEMBUNYI DI PEKALONGAN


Saat mendengar kata Pekalongan hal pertama yang ada di benak saya adalah batik. Sehingga setiap kali pergi ke luar kota lalu melewati Pekalongan saya pasti akan mampir sejenak untuk berburu batik.
Batik Pekalongan memang tidak perlu diragukan lagi kecantikanya, ciri khas batiknya menjadikan pekalongan dikenal sebagai bumi batik nusantara, bahkan UNESCO telah menetapkan Pekalongan sebagai kota kreatif dunia sejak 2014 silam.
Namun, dibalik ketenaran batik tersebut ternyata Pekalongan juga menyimpan banyak surga wisata yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Salah satunya seperti destinasi yang berada di Petungkriyono.
Petungkriyono merupakan salah satu kecamatan di Pekalongan yang terletak di daerah ketinggian, lokasi yang Jauh dari perkotaan membuat Petungkriyono terasa sejuk dan alami, sehingga sangat cocok untuk menghabiskan akhir pekan sambil menikmati panorama alam yang indah.
Hari ini, alhamdulillah, saya memiliki kesempatan untuk menjelajah Petungkriyono dalam event ‘Amazing Petung National Explore’ bersama beberapa peserta pilihan dari seluruh Indonesia. Bersyukur sekali dapat melihat secara langsung kekayaan alam yang ada di Petungkriyono.

Sebelum menjelajah Petungkriyono, kami diundang oleh Bapak Hasip Kholbihi selaku Bupati Pekalongan untuk menghadiri acara jamuan di Pendopo Kajen (Tempat dinas bupati Pekalongan).
Dalam jamuan tersebut, pak Bupati sempat menyampaikan sambutan kepada para peserta Petung Explore. Beliau banyak menceritakan tentang sejarah, budaya, adat istiadat sampai objek wisata yang terdapat di Petungkriyono.
Walau sambutan beliau terkesan singkat tetapi informasi yang disampaikan sarat akan makna, sehingga dapat menambah wawasan saya. Tidak sabar rasanya ingin cepat-cepat menjelajah Petungkriyono!.
---
Setelah menghadiri jamuan, kamipun memulai perjalanan menuju petungkriyono. Selama perjalanan saya mulai merasakan perubahan yang signifikan, dari mulai hiruk pikuk perkotaan berubah menjadi suasana tenang perkampungan.
Sepanjang perjalanan kami melewati beragam pepohonan hijau di kanan kiri jalan, trek yang menanjak membuat suhu udara semakin sejuk. Itu artinya kawasan Petungkriyono sudah semakin dekat.
Setelah kurang lebih satu jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Petungkriyono. Namun, untuk dapat menuju kawasan pariwisata kami harus menggunakan kendaraan roda empat yang sudah disulap menjadi mobil angkutan wisatawan, angkutan ini disebut dengan Anggun Paris.



Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari salah seorang supir, Anggun Paris merupakan singkatan dari Angkutan Gunung Pariwista. Kendaraan dengan desain jendela terbuka ini dapat menampung hingga 10 orang penumpang. Fasilitas kendaraan ini dimaksudkan untuk memudahkan para wisatawan menyaksikan pesona alam selama berada di kawasan wisata Petungkriyono.
Nah, jika anda sedang berada di Petungkriyono, tidak ada salahnya menggunakan kendaraan Anggun Paris ini. Selain unik, juga mengasyikkan loh.


15 menit perjalanan menggunakan Anggun Paris kamipun sampai di landmark Petungkriyono. Disini kami langsung disambut oleh dua orang penari Petung yang anggun diiringin lantunan musik yang khas.
Sambil menyaksikan tarian petung para wisatawan juga dapat mencicipi kopi khas Petung yang disediakan di salah satu warung yang berada di dekat landmark petungkriyono.
Kombinasi pertunjukkan tari dan secangkir kopi membuat siapapun terlena untuk datang kesini lagi. Acara welcome event ditutup oleh tepuk tangan dan sorak meriah dari para penonton yang hadir.


Setelah puas menyaksikan tari petung, kami melanjutkan perjalanan menuju spot pertama, Yaitu Curug Sibedug.  Untuk sampai kelokasi ini perjalanan dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 30 menit.
Sesampainya di Curug Sibedug saya sempat heran karna curug ini tidak seperti curug kebanyakan yang pernah saya temui. Biasanya lokasi curug selalu berada di kedalaman, Sedangkan Curug Sibedug terletak di tepi jalan. sehingga siapapun yang melewati jalan ini pasti akan melihat Curug Sibedug.
Curug Sibedug sendiri memiliki dua pancaran air yang tidak terlalu besar dengan ketinggian 20 M. Saat musim hujan air terjun ini bisa bertambah hingga 3 pancaran.
Untuk dapat mendekat ke air terjun pengunjung tidak perlu mengeluarkan tenaga yang ekstra, cukup melewati jembatan kayu yang sudah disediakan wisatawan dapat langsung mendekat ke air terjun.
Lokasi Curug Sibedug yang strategis membuatnya selalu ramai di kunjungi wisatawan, baik untuk menyaksikan air terjun maupun untuk istirahat sejenak di beberapa warung yang ada di sekitar Curug Sibedug sambil meminum kopi khas petung.


Petungkriyono terkenal dengan wisata air yang melimpah, salah satunya seperti destinasi di jembatan sipingit.
Secara sekilas jembatan ini memang sama seperti jembatan lain pada umumnya. Namun, jika kita mampir sejenak dan turun ke bawah jembatan maka kita akan menyaksikan banyak sekali bebatuan besar yang dialiri air sungai yang segar.
Sebetulnya bagian menarik dari jembatan sipingit bukanlah yang berada di pinggir jalan seperti yang saya kunjungi saat itu, tetapi masih berada jauh di atas sungai yang lebih dikenal dengan kedung Sipingit atau Black Canyon.
Namun, saat itu saya tidak menuju ke kedung Sipingit tapi hanya di Jembatan Sipingitnya saja. Mungkin suatu saat nanti saya akan kembali lagi ke Petungkriyono untuk melihat secara langsung surga tersembunyi di Kedung Sipingit. Saya ingin merasakan sensasi melompat dari atas bebatuan lalu berenang ke dalam kolam air yang menyegarkan.
Namun, walaupun begitu saya sudah sangat senang berada di jembatan sipingit ini. Karna di tempat tinggal saya belum tentu ada sungai secantik ini.

Tak lama berada di jebatan sipingit perjalanan kami lanjutkan menuju Welo Asri. Jarak yang ditempuh untuk sampai ke lokasi ini sekitar 30 menit. Trek yang kami tempuh semakin lama semakin menanjak tapi juga semakin indah.
Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan sawah padi yang sangat memanjakan mata. Hingga tak terasa akhirnya kami sudah sampai di kawasan wisata Welo Asri.
Sebelum menikmati setiap spot menarik yang ada di Welo Asri, saya sempat bertanya kepada salah satu pemandu tentang asal usul penamaan Welo Asri.
Beliau berkata, bahwa Welo Asri memiliki arti Pasir yang asri. Jadi menurut sejarahnya, tempat wisata ini dulunya sebagai mata pencaharian warga dari pasir. Sedangkan sekarang sudah menjadi objek wisata.
Banyak hal menarik yang dapat di lakukan di Welo Asri, sekedar berfoto di beberapa spot selfie yang unik atau naik ke atas naik keatas rumah pohon menjadi kegiatan yang menyenangkn untuk menikmati Welo Asri.
Sebetulnya saya masih ingin berlama-lama di Welo Asri, tetapi karna kabut sudah turun akhirnya aku dan peserta lainya memutuskan untuk melanjutkan kembali perjalanan ke Spot terakhir di Petungkriyono, yaitu Curug Bajing.
Dalam perjalanan menuju Curug Bajing, beberapa peserta bersorak senang karna sempat melihat seeokr owa jawa yang sedang melompat dari satu pohoh ke pohon yang lainya.

Spot selanjutnya yang kami kunjungi adalah Curug Bajing. Adapun jarak tempuh yang dibutuhkan yaitu sekitar 1 jam perjalanan dari Welo Asri.
Saat memasuki kawasan Curug Bajing, saya sudah dapat mendengar suara gemuruh air terjun dari kejauhan, Padahal saya belum melihat bagaimana wujudnya. Dari sini saya berasumsi bahwa Curug Bajing merupakan curug yang sangat besar dan tinggi.
Kawasan wisata Curug Bajing sangat bersih dan terawat, sarana-prasaranya juga lengkap. Dari mulai tempat parkir yang luas, mushala, toilet, homestay, rumah makan dan lain-lain.
Untuk menuju Curug Bajing, wisatawan harus trekking menuruni anak tangga yang terbuat dari bebatuan. Dalam perjalanan akan terlihat beberapa spot menarik yang dapat digunakan untuk mengambil foto. Seperti pohon selfi, spot foto berbentuk hati, kupu-kupu, papan kayu dan spot lainya yang instagram-able.
Dari spot-spot inilah yang akan menghasilkan foto-foto cantik dengan latar belakang Curug Bajing yang sangat mengagumkan.
Beberapa wisatawan ada yang memilih mendekat ke lokasi air terjun tetapi ada pula yang memutuskan untuk menjauh karna takut dengan debit air terjun yang sangat besar dengan ketinggian sekitar 75 Meter. Begitu besarnya sampai tidak ada satupun pengunjung yang berani mandi di bawah air terjun.
Untuk saya sendiri dapat melihat air terjun dari jarak terdekat merupakan suatu sensasi menyenangkan tersendiri. Oleh karna itu saya mencoba berjalan melalui bebatuan untuk menuju air terjun sampai jarak terdekat yang bisa saya jangkau.
Setelah cukup dekat dengar air terjun, saya langsung disambut oleh percikan air terjun yang menyegarkan. Saat terkena sinar matahari pantulain airnya dapat membentuk pelangi kecil yang cantik.
Bisa dibilang, dari sekian banyak destinasi yang ada di Petungkriyono, hanya Curug Bajing yang paling saya suka.


Hari sudah mulai gelap, para peserta diperintahkan oleh pemandu untuk segera kembali ke Anggun Paris untuk melanjutkan perjalanan menuju Curug Lewi.


Sesampainya di pintu masuk Curug Lewi kami langsung disambut secara meriah oleh penampilan Rampak dari Santri al-Fusha. Iringan musik, nyanyian dan goyangan membuat rasa lelah saya hilang seketika, bahkan beberapa perserta Petung Explore ada yang ikut bergoyang.




Untuk mencapi Curug ini pengunjung harus melakukan Jungle Trekking menyusuri jalan setapak di tengah hutan dan sungai kecil selama kurang lebih 1 jam.

Berhubung saat itu hari sudah mulai gelap, kamipun tidak sempat menuju Curug Lewi. Namun, pemandangan hutan pinus yang berjejer dan taman buatan yang instagram-able dapat menghilangkan kekecewaan saya.




Saat itu Bu ir. Hj. Arini Harimurti selaku wakil Bupati datang ke lokasi Curug Lawe, beliau menyampaikan sambutan dan ucapan terimakasih kepada para peserta karna telah berkunjung ke Petungkriyono.


Kamipun berterimakasih kembali atas jamuan dan penjelajahan Petungkriyono yang sangat menyenangkan ini. Semoga suatu saat saya memiliki kesempatan lagi untuk dapat menjelajah Petungkriyono.
Sayapun  berharap semoga pariwisata di Petungkriyono dapat lebih ditingkatkan lagi fasilitas dan layananya. Walaupun sudah cukup baik tetapi masih banyak yang harus dibenahi.
Nah teman-teman, jika kamu sedang berada di Pekalongan cobalah mampir ke Petungkriyono, Kekayaan alam Petungkriyono sangat sayang jika dilewatkan.

BTW, keseruan penjelajahan Petungkriyono kali ini sudah aku rangkum dalam video Vlog berikut. Selamat menyaksikan :)



UNIK! FOTO KEKINIAN DALAM AIR DI UMBUL PONGGOK, KLATEN. (VISIT JATENG)


Ada satu hashtag yang sangat sering aku temui saat bermain di instagram, yaitu #umbulponggok. Awalnya aku cuek dan tidak terlalu tertarik, tetapi lama-kelamaan hashtag tersebut jadi semakin ramai dan sukses membuatku penasaran.
Alhasil, aku langsung memasukkan destinasi Umbul Ponggok kedalam Bucket List Travelingku, dan alhamdulillah impian ke Umbul Ponggok sudah terealisasi sehingga aku bisa ikut meramaikan hashtag #umbulponggok di Instagram seperti orang-orang, muehe.
O iya, Bagi yang belum tahu, Umbul Ponggok merupakan wisata air yang berada di Klaten Jawa Tengah. Umbul Ponggok sendiri diambil dari kata ‘Umbul: Mata Air’ dan ‘Ponggok : Nama daerah/desa tempat mata air ini berada’.
Jadi kira-kira Umbul Ponggok bisa diartikan ‘Mata Air dari desa Ponggok’.
Yang unik dari wisata ini adalah selain dapat berenang atau snorkeling, pengunjung juga bisa berfoto di dalam air menggunakan berbagai properti yang tidak biasa.

Seperti berfoto sambil menggunakan sepeda motor, menonton TV, tidur dalam tenda dan masih banyak lagi. Semua foto-foto ini dilakukan diadalam air. Hal inilah yang menjadi daya tarik utama wisatawan untuk berkunjung ke Umbul Ponggok.
Sebetulnya impian ke Umbul Ponggok sudah lama sekali aku idam-idamkan, tetapi baru bisa terwujud saat libur lebaran kemarin, tepatnya setelah mendaki gunung Lawu di Solo.
Setelah melakukan pendakian aku masih punya sedikit waktu untuk muter-muter keliling Solo. Saat itu aku memang sudah memantapkan niat untuk ke Umbul Ponggok. Tetapi aku masih ragu karna sedang Solo Traveling.
Aku pikir tidak asyik rasanya jika ke Umbul Ponggok seorang diri. lantas siapa yang akan fotoin aku berpose di dalam air ? maudi ayunda ?
Setelah memutar otak, akhirnya aku memutuskan untuk mencari partner traveling via sosial media. Dengan kecanggihan sosmed akhirnya aku menemukan salah seorang teman di facebook yang kebetulan sedang berada di Solo. Panggil saja ia Rahmad.
Tidak sulit untuk menghasut Rahmad main ke Umbul Ponggok sebab ia sedang tidak ada kegiatan. kamipun segera memutuskan tempat ketemuan di salah satu masjid yang ada di Desa Jambu Kulon Klaten.
Tidak beberapa lama akhirnya Rahmad datang, ternyata ia tidak sendiri. Ia bersama seorang teman yang entah siapa namanya aku lupa. Mereka meminta maaf karna datang terlambat sebab mereka sempat nyasar di gorong-gorong. Lah ?
Sebelum berangkat kami melakukan jamak Shalat Zuhur dan Ashar terlebih dahulu agar hati kami terasa tenang. Tetapi tetap saja aku tidak tenang karna kami hanya membawa satu motor sedangkan kami ada 3 orang.
“Ga usah khawatir bro, di Solo jarang ada polisi ko, ga bakal kena tilang !” kata Rahmad meyakinkan.
Dengan penuh keimanan akupun meng-iya-kan perkataan Rahmad. Bermodalkan bantuan GPS kamipun langsung cabut layaknya cabe-cabean.
----
Menurut GPS kami akan sampai di Umbul Ponggok sekitar 30 menit, nyatanya kami sudah sampai tidak lebih dari 20 menit. Cepet banget cuy! Ternyata memotong jalan melalui gorong-gorong tidak selamanya buruk.
Tepat di depan Umbul Ponggok terdapat area parkir yang cukup luas, hanya dengan membayar Rp. 2000,- kami sudah bisa menyimpan sepeda motor dengan aman hingga kami pulang.
Tidak jauh dari area parkir terdapat loket karcis, disini kami harus membayar tiket masuk Rp. 15.000 perorang. Sebelum masuk kami di beri beberapa bungkus makanan ikan secara gratis. Wih !
Memasuki kawasan umbul ponggok kami langsung disambut oleh ratusan pengunjung yang memadati area kolam. Dari mulai anak-anak, remaja sampai orang dewasa semua ada disini. Umbul Ponggok memang cocok dijadikan tempat wisata keluarga.
Tips: jika kalian ingin ke Umbul Ponggok datanglah saat weekdays sebab pengunjungnya tidak terlalu ramai sehingga kalian bisa lebih leluasa.



Banyaknya wisatawan yang datang membuat kami kebingungan mencari tempat duduk. Semua sudut sudah penuh oleh pengunjung sehingga kami harus muter-muter mencari tempat yang sepi dan nyaman.
Tidak beberapa lama akhirnya kami menemukan tempat yang sesuai dengan selera kami. Lokasinya berada di lantai dua, sehingga kami harus naik tangga terlebih dahulu.
Menurutku tempat duduk di lantai dua jauh lebih bagus daripada di lantai bawah. Anehnya justru para pengunjung lebih suka berada di bawah, mungkin mereka malas naik turun tangga karna di bawah lebih dekat dengan kolam jadi kalau mau berenang tinggal nyemplung.
Tidak banyak cingcong Kamipun segera melepas pakaian. Kami tidak perlu ke kamar ganti karna kami sudah menggunakan pakaian renang sebelum ke Umbul Ponggok.
Btw, Kalo semuanya renang yang jaga barang bawaan kita siapa ?” Celetuk temen Rahmad.
Betul juga, walaupun disekitar kami sepi tetapi kami harus tetap waspada. Barang bawaan kami bisa terbilang cukup mahal jadi tidak boleh ditinggal sembarangan. Ingat, mencegah lebih baik daripada mengobati.
Yasudah kalau gitu kita cari tempat penitipan barang saja” aku memberi solusi.
Tanpa perintah kami bertiga langsung celingak-celinguk mencari tempat penitipan barang. Sayangnya kami tidak menemukanya, sehingga kami terpaksa bertanya ke salah satu petugas Umbul Ponggok.
Ternyata eh ternyata di Umbul Ponggok memang tidak disediakan tempat penitipan barang. Tetapi kami bisa menggunakan loker yang disewa mas-mas warung untuk menyimpan barang berharga kami.
Loker Sewaan yang ada di Umbul Ponggok sangat terbatas, untung saja masih ada satu loker yang tersedia. Kamipun segera menyewanya dengan membayar uang Rp. 4000 rupiah.
FYI, kolam di Umbul Ponggok memiliki ukuran 70 x 40 M. Ukuran yang luas dapat menampung hingga ribuan pengunjung. Jadi kamu tidak perlu khawatir, sebanyak apapun pengunjung yang datang semua pasti bisa berenang, tidak perlu berdempet-dempetan.
Tanpa basa-basi aku langsung loncat kedalam air. Sedangkan kedua temanku masih melipir di bibir kolam sambil meraba-raba kedalaman kolam. Takut kelelep katanya.
Setelah tahu kolamnya dalam mereka langsung pergi menyewa pelampung seharga Rp.15.000. Sedangkan aku sudah menggila sampai tengah kolam yang dalamnya sekitar 2-3 meter.



Pertama kali menyentuh air aku langsung merasakan sensasi dingin yang menyegarkan. Kondisi airnya tidak pernah kotor karna air di sini selalu mengalir. Lantai yang terbuat dari bebatuan menambah kealamian kolam di Umbul Ponggok.
Disini juga banyak ikan-ikan berlalu lalang. Lemparkan saja umpan ikan ke dalam kolam nanti dengan sendirinya segerombolan ikan akan berdatangan. Seru bat liatnya.
Setelah puas berenang, aku mengajak kedua temanku untuk berfoto di dalam air menggunakan properti. Saat itu kami sepakat akan berfoto menggunakan sepeda ontel dalam air. Kamipun langsung menuju mas-mas penjaga properti untuk meminjam beberapa sepeda ontel.
Sayang beribu sayang, ternyata kami tidak boleh meminjam properti tersebut, tetapi harus menyewa terlebih dahulu. Dalam sejam Rp. 15.000. Oalah aku kira gratis toh. 
Aku bisa maklum karna didunia ini ga ada yang gratis, pipis aja bayar, yah you knowlah.
Namun, hal yang sangat mengecewakan adalah ketika kami menyewa properti kami juga harus menyewa Action Camera seharga Rp. 60.000. Dengan kata lain, Kami tidak boleh menggunakan kamera sendiri. Sewa properti sudah sepaket dengan sewa kamera underwater. Jadi jika ditotal kami harus membayar uang sewa properti seharga Rp.75.000. Mahal banget cuy!.
Merasa kecewa kamipun tidak jadi menyewa sepeda ontel, impian uploud foto kece dengen hashtag #umbulponggok di instagram pun gagal.
Tips: Datanglah keumbul Ponggok saat pagi atau sore hari, selain cuaca tidak terlalu panas juga cocok untuk pengambilan foto bawah air. Trust me !
Rasa kecewa membuat kami cepat lapar. Akhirnya kami memutuskan untuk makan di salah satu warung yang banyak berjejer di sekitar kolam Umbul Ponggok.
Sebelum memesan makanan aku sempat tercengang karna harga yang ditawarkan sangat murah, bahkan aku berani memesan menu paling mahal di Umbul Ponggok yaitu Nasi Goreng seharga Rp. 8000 rupiah.
Nah, jika kamu berencana ke Umbul Ponggok, kamu tidak perlu takut kelaparan karna harga makanan disini murah-murah. Tidak seperti tempat wisata kebanyakan yang harga makanan saja bisa 5 kali lebih mahal.
Aku kasih Nilai 100 untuk harga kuliner di Umbul Ponggok !
Hari mulai gelap, pengunjung sudah mulai sepi dan mbak-mbak petugas berkali-kali memberitahu lewat TOA bahwa kawasan Umbul Ponggok akan segera tutup tepat pukul 5 sore. 
Kamipun segera membayar makanan dan pulang dengan rasa senang dan kenyang. Walaupun tidak bisa berfoto dalam air sambil menggunakan sepeda ontel tetapi kami sudah sangat bersyukur bisa berkunjung ke Umbul Ponggok.
Andai saja rumahku di Klaten, aku pasti akan menghabiskan sisa hidupku untuk berenang di Umbul Ponggok. Suatu saat aku harus kesini lagi. Ada yang mau ikut ?
-----------
Catatan perjalanan kali ini sudah aku rangkum melalui Video Travel Vlog berikut ini, Selamat menyaksikan.



VLOG TERBAIK MINGGU INI, TONTON KAK !