KHAIRULLEON.COM

WISATA GRATIS DI TAMAN MANGROVE PEKALONGAN, Sayang jika dilewatkan


Pagi itu sekitar pukul 4.30, keretaku sudah sampai di Stasiun Pekalongan. Setelah menunaikan shalat subuh aku duduk-duduk sebentar di bangku stasiun sampai matahari mulai naik.
Ini merupakan pertama kalinya aku ke Pekalongan, seperti biasa aku tidak memiliki rencana ingin kemana. Bingung ? tentu saja tidak. Toh sekarang sudah ada internet, info apapun yang aku butuhkan semua tersedia disana. Internet juga yang membuatku tidak takut solo traveling. Kamu harus coba!.
Berbekal GPS dan arahan dari salah seorang Blogger Pekalongan lewat chatting WhatsApp, aku diberi opsi tempat wisata yang bisa ku kunjungi. Tentu saja aku memilih tempat yang mudah dijangkau dan letaknya dekat dari stasiun.
Dan pilihanku jatuh pada Taman Mangrove a.k.a Mangrove Park di kelurahan Kandang Panjang Kota Pekalongan dekat Kampus Stain dan pantai pasir kencana.
Di Pekalongan terdapat beberapa alat transportasi yang dapat digunakan seperti angkot, becak atau (G)ojek. Dan aku memilih jalan kaki !. Sengaja, supaya bisa lebih leluasa melihat geliat masyarakat. 

Walaupun cuaca sangat panas tetapi aku tetap saja berjalan, menyenangkan sekali menyaksikan aktifitas warga Pekalongan yang ulet, sopan dan ramah.
Sebelum ke Taman Mangrove aku juga sempat mampir ke tugu Pekalongan, niatnya ingin sekalian cari warung untuk sarapan pagi, sayangnya semua warung masih tutup. Yasudah tidak apa-apa, lihat patung pahlawan seperti ini juga sudah membuat kenyang. Yakali.


ADA APA SIH DI TAMAN MANGROVE PEKALONGAN ?

Hampir satu jam perjalanan akhirnya aku sampai di Taman Mangrove. Lokasinya mudah di tebak, sebab sebelum mencapai lokasi mangrove aku sudah dapat melihat pohon mangrove yang banyak tersebar di sisi jalan.
Didekat pintu masuk terdapat beberapa orang yang sedang berkumpul, apakah mereka petugas ? aku tidak tahu. Anehnya tak ada satupun dari mereka yang menghampiriku untuk meminta uang masuk. Disini juga tidak ada papan informasi terkait harga tiket.
Akupun menghampiri kerumunan orang tersebut lalu mengucap salam. Aku tidak akan memulai bertanya harga tiket masuk, biar mereka saja yang memulia duluan. Nyatanya, mereka tidak bertanya apa-apa. Yasudah aku masuk saja.
5 langkah berjalan tiba-tiba aku inget dosa, kalau tidak bayar tiket nanti travelingku ga berkah. akupun membuka google, mencari tahu tentang tempat ini. Kesimpulanya membuatku ketawa-tawa sendiri, ternyata tempat ini memang gratis.
Walaupun untuk parkir bayar sih, sekitar 2000 an gitu. Wajar lah ya, kawasan parikirnya juga luas ko, worth sama harganya. Yoo saatnya keliling taman mangrove. Yaay!

JEMBATAN SHELTER INSTAGRAMable


Wahana pertama yang aku lihat di Taman Mangrove adalah jembatan cantik yang disebut shelter. Jembatan ini dibangun diatas air, sehingga wisatawan dapat melihat pohon mangrove yang tumbuh dibawah jembatan.


Saat itu aku melihat beberapa pengunjung yang sedang sibuk berselfie ria. Tidak mau kalah akupun ikut mengabiskan memori kamera. Mengabadikan moment di jembatan Mangrove Park memang wajib hukumnya, jangan sampa pulang-pulang kamu menyesal karna tidak sempat berfoto disini. Jembatanya InstagramAble banget cuy.



KELILING TAMAN MANGROVE MENGGUNAKAN PERAHU


Saat berjalan-jalan diatas jembatan aku sempat melihat sebuah perahu berlalu lalang disekitar Taman Mangrove. Perahunya unik seperti banana boot yang sudah di modifikasi. Btw, Untuk naik ke perahu ini gratis loh, tapi turunya bayar Rp. 10.000 hehe.
Selama naik perahu pengunjung akan diajak berkeliling melihat pohon mangrove dari jarak dekat. Menyesal sekali saat itu aku tidak sempat naik perahu, padahal wahana ini bisa membawaku melewati lorong-lorong pohon bakau sambil menyimak pembahasan menarik dari guide tentang mangrove.
Mungkin aku harus kembali lagi ke sini untuk naik perahu. Setuju ?

PUSAT INFORMASI MANGROVE


Sebelum masuk ke Jembatan Shelter pengunjung akan melewati bangunan berwarna coklat yang merupakan Pusat Informasi Mangrove (PIM). Disini pengunjung dapat membaca-baca buku di perpustakaan dan melihat beragam pameran. Sayanya, aku tidak bisa masuk karna pintunya masih terkunci.

Ah, Mungkin aku harus kembali lagi kesini (2)

BERDAMPINGAN DENGAN KREMATORIUM

Dari keajauhan dekat pintu masuk aku dapat melihat bangunan bertuliskan Krematorium. Saat itu aku tidak tahu fungsi bangunan tersebut. Tetapi setelah tanya google ternyata krematorium diambil dari kata kremasi yang artinya tempat pembakaran mayat menjadi debu. Loh kok jadi horor wkwk.

TIPS JALAN-JALAN NYAMAN DI TAMAN MANGROVE


Berikut ini beberapa tips untuk kamu yang ingin berlibur ke Taman Mangrove Pekalongan.
  • Pakailah pakaian yang menyerap keringat, mengingat cuaca di Taman Mangrove sangat panas. Bisa juga menggunakan topi atau kacamata sebagai pelengkap.
  • Ditaman ini tidak terdapat warung makan, jadi kalau kamu orangnya cepat lapar lebih baik membawa bekal sendiri dari rumah.
  • Mangrove Waterpark Pekalongan sangat cocok dijadikan sebagai destinasi Keluarga, jadi ajaklah orang-orang tercinta ke tempat ini. Taman Mangrove juga bisa dijadikan ajang bermain sambil belajar.
  • Jangan buang sampah sembarangan, ayo jaga dan lestarikan lingkungan mangrove Park.
  • Jika tidak ingin menyewa perahu, kamu bisa membawa perahu sendiri dari rumah, he yakali.
Nah, berikut ini video Vlog selama aku berkeliaran di Pekalongan termasuk salah satunya di Taman Mangrove, Yuk kak di tonton dulu :)



MENGINTIP PROSES PEMBUATAN BATIK DI PADEPOKAN PESISIR PEKALONGAN


Minggu lalu saat berkunjung ke Pekalongan saya menyempatkan diri untuk mampir sejenak ke Museum Batik. Di museum tersebut banyak tersimpan beragam kreasi batik dari berbagai daerah di Indonesia seperti Banten, Kalimantan, Garut, Indramayu, Madura, Papua dan tentu saja batik Pekalongan itu sendiri.
Dari beberapa ruang yang terdapat di museum tersebut, ada satu sudut yang sangat menarik perhatian saya, yaitu ruang praktik membuat batik.
Berbekal video tutorial pembuatan batik yang saya tonton di youtube, sayapun memberanikan diri untuk mencoba membuat batik. Mulanya saya mengambil selembar kain berbentuk persegi empat, lalu saya memasukkan canting ke dalam lilin yang sudah dipanaskan dalam wajan, setelah itu barulah saya mulai melukis batik.
Dan hasilnya, ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi. Membuat batik tidak semudah yang saya bayangkan. Terdapat teknik khusus dan tahapan tersendiri untuk menciptakan batik yang sempurna.
Nah, dari pengalaman inilah akhirnya saya penasaran untuk mencari tahu lebih banyak tentang batik.







Hasil batik saya ?

Bagi saya, batik tidak hanya berperan sebagai warisan budaya saja tapi juga menjadi nafas kehidupan rakyat Indonesia.
Sebagai contoh, saat adik saya dilahirkan kedunia ia langsung di bungkus dan di gendong menggunakan kain batik. Saat kakak saya menikah, ia menggunakan kain batik sebagai gaun pernikahannya, atau saat ayah saya meninggal dunia beliau diselimuti dengan batik hingga detik terakhir sebelum dimasukkan keliang lahat.
Tanpa kita sadari batik memiliki nilai yang sangat erat dengan kehidupan kita. Sehingga sudah sewajarnya bagi kita untuk mencintai dan melestarikan batik.
O iya, Beberapa hari yang lalu saya terpilih sebagai salah satu peserta Amazing Petung National Explore 2017 (APNE) yang diselenggarakan oleh PemKab Pekalongan.
Senang sekali rasanya bisa menjelajah Petungkriyono dan berkunjung ke salah satu Padepokan tempat produksi batik. Banyak sekali pengetahuan baru yang saya dapat, terutama pengetahuan tentang tata cara pembuatan batik.
Seperti yang kita tahu Pekalongan merupakan ikon batik nusantara. Siapapun yang mendengar kata Pekalongan pasti akan disandingkan dengan batik.
Masyarakat Pekalongan tidak hanya menjadikan batik sebagai mata pencaharian tapi juga sudah menjadi denyut nadi kehidupan. Sebagai bentuk kecintaan mereka terhadap batik kini di beberapa wilayah di Pekalongan sudah terdapat banyak sekali tempat khusus untuk memproduksi batik, salah satunya yaitu Padepokan Batik Pesisir H Muasif.
Padepokan yang sudah dirintis sejak tahun 1999 ini berlokasi di wiradesa, Kab. Pekalongan. Hingga kini padepokan tersebut telah melahirkan ribuan karya batik yang sudah tersebar hingga mancanegara.
Bahkan baru-baru ini H Muasif menciptakan sebuah batik cantik yang diberi nama Batik Petungkriyono. Nama ini diambil dari salah satu kecamatan di Pekalongan yang merupakan tempat ekowisata yang memiliki segudang keindahan.
Terlihat di lukisan batik tersebut terdapat motif pepohonan, jalan berliku, sungai, air terjun dan berbagai element yang menggambarkan suasana alam Petungkriyono.
Batik Pekalongan memang memiliki ciri khas tersendiri, corak flora dan fauna di kombinasikan dengan warna yang terang menjadikan batik Pekalongan terkesan berbeda dibanding batik lainya. Hal inilah yang membuat batik Pekalongan memiliki banyak peminat.
Saat memasuki kawasan padepokan, saya langsung mencium aroma lilin yang merupakan bahan utama pembuatan batik. Bangunan padepokan yang berkonsep tradisional membuat saya seperti kembali ke zaman jawa kuno.
Di sepanjang jalan menuju gerbang masuk padepokan terdapat spanduk yang berisi informasi tentang sejarah batik di Indonesia. Salah satu petikan yang saya ingat saat itu adalah bahwa batik Pekalongan sudah ada sejak 18 abad yang lalu. Oleh karna itu tidak salah jika batik Pekalongan merupakan warisan nenek moyang yang patut dilestarikan.
Memasuki gerbang Padepokan Pesisir kami langsung digiring menuju gerbang Pranggok Pesisir yang merupakan tempat para pengrajin membuat batik. Terlihat disetiap sudut terdapat para pengrajin yang sedang mengerjakan tugasnya masing-masing.
Di sini saya dapat menyaksikan bagaimana para pengrajin dengan telaten membuat batik mulai dari nol sampai menjadi sehelai kain batik yang cantik.
Adapun batik yang di buat di padepokan pesisir menggunakan teknik batik tulis. Pemandu kami mengatakan bahwa batik yang dilukis dengan tangan lebih menjiwai dibanding batik yang dibuat menggunakan alat. Sehingga wajar jika harganyapun cukup mahal.
Batik sendiri memiliki beberapa teknik dalam pembuatanya, antara lain yaitu teknik printing yang merupakan teknik pembuatan batik secara modern. Teknik cap yaitu melukis batik menggunakan alat cap dan yang terakhir teknik batik tulis yang mana lukisanya digambar secra manual mengguanakan tangan sehingga penyelesaianya bisa mencpai lebih dari 2 hingga 3 bulan.



PROSES PEMBUATAN BATIK
Untuk menciptakan satu potong kain batik biasanya memerlukan waktu yang relatif lama. Pembuatanyapun tidak ditangani oleh satu orang saja, melainkan beberapa orang yang tugasnya berbeda.
Nah adapun langkah-langkah pembuatan batik adalah sebagai berikut :
1. Siapkan peralatan membatik
Beberapa peralatan batik yang harus dipersiapkan antara lain :
  • Kain yang biasa digunakan untuk membuat batik adalah kain mori, kain katun, kain paris, kain serat nanas dan kain sutra. Namun yang paling sering digunakan yaitu kain mori.
  • Canting adalah alat yang digunakan untuk menggambar dan atau menuliskan malam/lilin panas di atas kain sesuai dengan gambar sketsa.
  • Gawangan yaitu alat yang digunakan untuk menempatkan atau membentangkan mori yang akan dibatik.
  • Wajan yaitu tempat yang digunakana untuk memanaskan malam.
  • lilin atau biasa disebut malam yaitu bahan yang digunakan untuk menutup bagian-bagian tertentu dari kain.
2. Nganji / Nyekuli
Sebelum kain mori dibatik, biasanya dilemaskan terlebih dahulu agar kain lebih mudah untuk di gambar. Caranya yaitu dengan merendam mori dalam air selama satu malam, kemudian dicuci selama ¼ jam dan direbus dalam air kanji atau tajin (air rebusan beras yang kadang diberi campuran daun bambu dan sedikit gamping).
3. Ngemplong
Setelah dikanji, kain lalu dikemplong, yaitu digulung kemudian diletakkan di atas papan atau tempat yang datar dan dipukuli dengan ganden (palu kayu).
Proses menganji dan mengemplong ini dilakukan agar cairan malam yang nantinya digoreskan diatas kain tidak terlalu meresap ke dalam serat tenunan. Dengan demikian malam dapat dengan mudah dihilangkan.
4. ngelngrengi dan nerusi

Setelah kain menjadi lemas, maka tahap berikutnya adalah ngengrengi dan nerusi, yaitu membuat pola pada mori dengan menggunakan malam.
Saat di Padepokan saya melihat dua pengrajin batik yang sedang membuat pola garuda di atas kain.
5. ngiseni / Ngisen-isen

Setelah pola terbentuk, tahap selanjutnya adalah ngiseni, yakni menggambar kain mengikuti pola yang sudah dibentuk dengan menggunakan canting.
Biasanya dalma menyanting didahului dengan mewarnai pola bagian luar terlebih dahulu setelah itu barulah mewarnai bagian dalam atau isinya (ngiseni).
Dalam proses membatik, pengrajin harus memperhatikan posisi duduk, Yaitu dengan meletakkan kompor/wajan di sebelah kanan. Gunanya untuk mempermudah mengambil malam.
6. Nemboki atau Mbiriki
Setelah menggambar batik menggunakan canting langkah selanjutnya yaitu nemboki atau mbiriki. Nemboki dilakukan untuk menutup bagian kain menggunakan malam yang tidak ingin terkena warna agar tetap putih.
7. Medel
Tahap selanjutnya adalah medel atau nyelup untuk memberi warna putih supaya hasilnya sesuai dengan yang diinginkan. Proses medel dilakukan beberapa kali agar warna putih menjadi lebih pekat.
8. Ngerok
ngerok yaitu menghilangkan lilin klowongan agar jika disoga bekasnya berwarna coklat. Alat yang digunakan untuk ngerok adalah cawuk yang terbuat dari potongan kaleng yang ditajamkan sisinya.
9. Mbironi
Setelah dikerok, kemudian dilanjutkan dengan mbironi. Dalam proses ini bagian-bagian yang ingin tetap berwarna biru dan putih ditutup malam dengan menggunakan canting khusus agar ketika disoga tidak kemasukan warna coklat.
10. Nyoga
Setelah itu, dilanjutkan dengan nyoga, yakni memberi warna coklat dengan ramuan kulit kayu soga, tingi, tegeran dan lain-lain. Untuk memperoleh warna coklat yang matang atau tua, kain dicelup dalam bak berisi ramuan soga, kemudian ditiriskan. Proses nyoga dilakukan berkali-kali dan kadang memakan waktu sampai beberapa hari. Namun, apabila menggunakan zat pewarna kimia, proses nyoga cukup dilakukan sehari saja.
11. Nglorot

Proses selanjutnya yang merupakan tahap akhir adalah nglorot, yaitu membersihkan malam. Caranya, kain mori tersebut dimasukkan ke dalam air mendidih yang telah diberi air kanji supaya malam tidak menempel kembali. Setelah malam luntur, kain mori yang telah dibatik tersebut kemudian dicuci dan diangin-anginkan supaya kering.

Hal yang menarik dari proses pembuatan batik di Padepokan H Muasif adalah kejelian para pengrajinya. Jika batik telah selesai di buat maka batik masih belum bisa didistribusikan tetapi masih dilakukan tahap akhir yaitu proses pengkoreksian.
Biasanya kain batik yang di lukis menggunakan canting selalu ada bagian yang tidak diinginkan, seperti kesalahan gambar atau warna. Sehingga kain batik harus diperbaiki sekecil apapun kesalahanya.
Adapun bagian gambar yang salah di tempeli dengan stiker berwarna sebagai tanda untuk mempermudah mencari kesalahan gambar. Setelah itu barulah kain batik di perbaiki lagi sampai benar-benar tidak ada cacat.
Itulah catatan perjalanan saya saat berkunjung ke rumah produksi batik di Padepokan Pesisir H Muasif di Pekalongan. Kini sayapun tahu bagaimana cara pembuatan batik.
Acara kunjungan hari itu di tutup dengan pameran batik Petungkriyono karya H Muasif yang sangat fenomenal. Berikut Video Vlog saat kunjunganku ke Padepokan Batik Pesisir di Pekalongan. Selamat menonton, semoga bermanfaat



SEHARI MENJELAJAH PETUNGKRIYONO, SURGA TERSEMBUNYI DI PEKALONGAN


Saat mendengar kata Pekalongan hal pertama yang ada di benak saya adalah batik. Sehingga setiap kali pergi ke luar kota lalu melewati Pekalongan saya pasti akan mampir sejenak untuk berburu batik.
Batik Pekalongan memang tidak perlu diragukan lagi kecantikanya, ciri khas batiknya menjadikan pekalongan dikenal sebagai bumi batik nusantara, bahkan UNESCO telah menetapkan Pekalongan sebagai kota kreatif dunia sejak 2014 silam.
Namun, dibalik ketenaran batik tersebut ternyata Pekalongan juga menyimpan banyak surga wisata yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Salah satunya seperti destinasi yang berada di Petungkriyono.
Petungkriyono merupakan salah satu kecamatan di Pekalongan yang terletak di daerah ketinggian, lokasi yang Jauh dari perkotaan membuat Petungkriyono terasa sejuk dan alami, sehingga sangat cocok untuk menghabiskan akhir pekan sambil menikmati panorama alam yang indah.
Hari ini, alhamdulillah, saya memiliki kesempatan untuk menjelajah Petungkriyono dalam event ‘Amazing Petung National Explore’ bersama beberapa peserta pilihan dari seluruh Indonesia. Bersyukur sekali dapat melihat secara langsung kekayaan alam yang ada di Petungkriyono.

Sebelum menjelajah Petungkriyono, kami diundang oleh Bapak Hasip Kholbihi selaku Bupati Pekalongan untuk menghadiri acara jamuan di Pendopo Kajen (Tempat dinas bupati Pekalongan).
Dalam jamuan tersebut, pak Bupati sempat menyampaikan sambutan kepada para peserta Petung Explore. Beliau banyak menceritakan tentang sejarah, budaya, adat istiadat sampai objek wisata yang terdapat di Petungkriyono.
Walau sambutan beliau terkesan singkat tetapi informasi yang disampaikan sarat akan makna, sehingga dapat menambah wawasan saya. Tidak sabar rasanya ingin cepat-cepat menjelajah Petungkriyono!.
---
Setelah menghadiri jamuan, kamipun memulai perjalanan menuju petungkriyono. Selama perjalanan saya mulai merasakan perubahan yang signifikan, dari mulai hiruk pikuk perkotaan berubah menjadi suasana tenang perkampungan.
Sepanjang perjalanan kami melewati beragam pepohonan hijau di kanan kiri jalan, trek yang menanjak membuat suhu udara semakin sejuk. Itu artinya kawasan Petungkriyono sudah semakin dekat.
Setelah kurang lebih satu jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Petungkriyono. Namun, untuk dapat menuju kawasan pariwisata kami harus menggunakan kendaraan roda empat yang sudah disulap menjadi mobil angkutan wisatawan, angkutan ini disebut dengan Anggun Paris.



Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari salah seorang supir, Anggun Paris merupakan singkatan dari Angkutan Gunung Pariwista. Kendaraan dengan desain jendela terbuka ini dapat menampung hingga 10 orang penumpang. Fasilitas kendaraan ini dimaksudkan untuk memudahkan para wisatawan menyaksikan pesona alam selama berada di kawasan wisata Petungkriyono.
Nah, jika anda sedang berada di Petungkriyono, tidak ada salahnya menggunakan kendaraan Anggun Paris ini. Selain unik, juga mengasyikkan loh.


15 menit perjalanan menggunakan Anggun Paris kamipun sampai di landmark Petungkriyono. Disini kami langsung disambut oleh dua orang penari Petung yang anggun diiringin lantunan musik yang khas.
Sambil menyaksikan tarian petung para wisatawan juga dapat mencicipi kopi khas Petung yang disediakan di salah satu warung yang berada di dekat landmark petungkriyono.
Kombinasi pertunjukkan tari dan secangkir kopi membuat siapapun terlena untuk datang kesini lagi. Acara welcome event ditutup oleh tepuk tangan dan sorak meriah dari para penonton yang hadir.


Setelah puas menyaksikan tari petung, kami melanjutkan perjalanan menuju spot pertama, Yaitu Curug Sibedug.  Untuk sampai kelokasi ini perjalanan dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 30 menit.
Sesampainya di Curug Sibedug saya sempat heran karna curug ini tidak seperti curug kebanyakan yang pernah saya temui. Biasanya lokasi curug selalu berada di kedalaman, Sedangkan Curug Sibedug terletak di tepi jalan. sehingga siapapun yang melewati jalan ini pasti akan melihat Curug Sibedug.
Curug Sibedug sendiri memiliki dua pancaran air yang tidak terlalu besar dengan ketinggian 20 M. Saat musim hujan air terjun ini bisa bertambah hingga 3 pancaran.
Untuk dapat mendekat ke air terjun pengunjung tidak perlu mengeluarkan tenaga yang ekstra, cukup melewati jembatan kayu yang sudah disediakan wisatawan dapat langsung mendekat ke air terjun.
Lokasi Curug Sibedug yang strategis membuatnya selalu ramai di kunjungi wisatawan, baik untuk menyaksikan air terjun maupun untuk istirahat sejenak di beberapa warung yang ada di sekitar Curug Sibedug sambil meminum kopi khas petung.


Petungkriyono terkenal dengan wisata air yang melimpah, salah satunya seperti destinasi di jembatan sipingit.
Secara sekilas jembatan ini memang sama seperti jembatan lain pada umumnya. Namun, jika kita mampir sejenak dan turun ke bawah jembatan maka kita akan menyaksikan banyak sekali bebatuan besar yang dialiri air sungai yang segar.
Sebetulnya bagian menarik dari jembatan sipingit bukanlah yang berada di pinggir jalan seperti yang saya kunjungi saat itu, tetapi masih berada jauh di atas sungai yang lebih dikenal dengan kedung Sipingit atau Black Canyon.
Namun, saat itu saya tidak menuju ke kedung Sipingit tapi hanya di Jembatan Sipingitnya saja. Mungkin suatu saat nanti saya akan kembali lagi ke Petungkriyono untuk melihat secara langsung surga tersembunyi di Kedung Sipingit. Saya ingin merasakan sensasi melompat dari atas bebatuan lalu berenang ke dalam kolam air yang menyegarkan.
Namun, walaupun begitu saya sudah sangat senang berada di jembatan sipingit ini. Karna di tempat tinggal saya belum tentu ada sungai secantik ini.

Tak lama berada di jebatan sipingit perjalanan kami lanjutkan menuju Welo Asri. Jarak yang ditempuh untuk sampai ke lokasi ini sekitar 30 menit. Trek yang kami tempuh semakin lama semakin menanjak tapi juga semakin indah.
Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan sawah padi yang sangat memanjakan mata. Hingga tak terasa akhirnya kami sudah sampai di kawasan wisata Welo Asri.
Sebelum menikmati setiap spot menarik yang ada di Welo Asri, saya sempat bertanya kepada salah satu pemandu tentang asal usul penamaan Welo Asri.
Beliau berkata, bahwa Welo Asri memiliki arti Pasir yang asri. Jadi menurut sejarahnya, tempat wisata ini dulunya sebagai mata pencaharian warga dari pasir. Sedangkan sekarang sudah menjadi objek wisata.
Banyak hal menarik yang dapat di lakukan di Welo Asri, sekedar berfoto di beberapa spot selfie yang unik atau naik ke atas naik keatas rumah pohon menjadi kegiatan yang menyenangkn untuk menikmati Welo Asri.
Sebetulnya saya masih ingin berlama-lama di Welo Asri, tetapi karna kabut sudah turun akhirnya aku dan peserta lainya memutuskan untuk melanjutkan kembali perjalanan ke Spot terakhir di Petungkriyono, yaitu Curug Bajing.
Dalam perjalanan menuju Curug Bajing, beberapa peserta bersorak senang karna sempat melihat seeokr owa jawa yang sedang melompat dari satu pohoh ke pohon yang lainya.

Spot selanjutnya yang kami kunjungi adalah Curug Bajing. Adapun jarak tempuh yang dibutuhkan yaitu sekitar 1 jam perjalanan dari Welo Asri.
Saat memasuki kawasan Curug Bajing, saya sudah dapat mendengar suara gemuruh air terjun dari kejauhan, Padahal saya belum melihat bagaimana wujudnya. Dari sini saya berasumsi bahwa Curug Bajing merupakan curug yang sangat besar dan tinggi.
Kawasan wisata Curug Bajing sangat bersih dan terawat, sarana-prasaranya juga lengkap. Dari mulai tempat parkir yang luas, mushala, toilet, homestay, rumah makan dan lain-lain.
Untuk menuju Curug Bajing, wisatawan harus trekking menuruni anak tangga yang terbuat dari bebatuan. Dalam perjalanan akan terlihat beberapa spot menarik yang dapat digunakan untuk mengambil foto. Seperti pohon selfi, spot foto berbentuk hati, kupu-kupu, papan kayu dan spot lainya yang instagram-able.
Dari spot-spot inilah yang akan menghasilkan foto-foto cantik dengan latar belakang Curug Bajing yang sangat mengagumkan.
Beberapa wisatawan ada yang memilih mendekat ke lokasi air terjun tetapi ada pula yang memutuskan untuk menjauh karna takut dengan debit air terjun yang sangat besar dengan ketinggian sekitar 75 Meter. Begitu besarnya sampai tidak ada satupun pengunjung yang berani mandi di bawah air terjun.
Untuk saya sendiri dapat melihat air terjun dari jarak terdekat merupakan suatu sensasi menyenangkan tersendiri. Oleh karna itu saya mencoba berjalan melalui bebatuan untuk menuju air terjun sampai jarak terdekat yang bisa saya jangkau.
Setelah cukup dekat dengar air terjun, saya langsung disambut oleh percikan air terjun yang menyegarkan. Saat terkena sinar matahari pantulain airnya dapat membentuk pelangi kecil yang cantik.
Bisa dibilang, dari sekian banyak destinasi yang ada di Petungkriyono, hanya Curug Bajing yang paling saya suka.


Hari sudah mulai gelap, para peserta diperintahkan oleh pemandu untuk segera kembali ke Anggun Paris untuk melanjutkan perjalanan menuju Curug Lewi.


Sesampainya di pintu masuk Curug Lewi kami langsung disambut secara meriah oleh penampilan Rampak dari Santri al-Fusha. Iringan musik, nyanyian dan goyangan membuat rasa lelah saya hilang seketika, bahkan beberapa perserta Petung Explore ada yang ikut bergoyang.




Untuk mencapi Curug ini pengunjung harus melakukan Jungle Trekking menyusuri jalan setapak di tengah hutan dan sungai kecil selama kurang lebih 1 jam.

Berhubung saat itu hari sudah mulai gelap, kamipun tidak sempat menuju Curug Lewi. Namun, pemandangan hutan pinus yang berjejer dan taman buatan yang instagram-able dapat menghilangkan kekecewaan saya.




Saat itu Bu ir. Hj. Arini Harimurti selaku wakil Bupati datang ke lokasi Curug Lawe, beliau menyampaikan sambutan dan ucapan terimakasih kepada para peserta karna telah berkunjung ke Petungkriyono.


Kamipun berterimakasih kembali atas jamuan dan penjelajahan Petungkriyono yang sangat menyenangkan ini. Semoga suatu saat saya memiliki kesempatan lagi untuk dapat menjelajah Petungkriyono.
Sayapun  berharap semoga pariwisata di Petungkriyono dapat lebih ditingkatkan lagi fasilitas dan layananya. Walaupun sudah cukup baik tetapi masih banyak yang harus dibenahi.
Nah teman-teman, jika kamu sedang berada di Pekalongan cobalah mampir ke Petungkriyono, Kekayaan alam Petungkriyono sangat sayang jika dilewatkan.

BTW, keseruan penjelajahan Petungkriyono kali ini sudah aku rangkum dalam video Vlog berikut. Selamat menyaksikan :)



VLOG TERBAIK MINGGU INI, TONTON KAK !