KHAIRULLEON.COM

VIDEO TERBAIK MINGGU INI

TEPAS LAWANG SALAPAN, IKON KOTA BOGOR SEHARGA 3 MILIAR ! WOW

Beberapa hari yang lalu tepatnya 2 hari setelah lebaran, adek dan keponakanku yang masih sekolah (ga tau kelas berapa) ngotot minta diajak jalan-jalan ke kota Bogor. Awalnya aku ga mau karna aku sudah bosan, terlebih libur lebaran itu cocoknya dihabiskan untuk tidur seharian bukan keluyuran. Tetapi mereka makin merengek kayak boneka susan.
Ah dari pada berisik aku ‘iya in’ aja biar cepet. Jadilah hari itu kami jalan-jalan ke Bogor dengan memanfaatkanku sebagai guide dan tukang Photo sekaligus Bank berjalan kalo duit mereka abis aku yang bayarin. Pada durhaka emang.
Perjalanan kami mulai dengan menggunakan Bus dari Parung ke Bogor. Karna masih berbau lebaran ternyata ongkosnya mahal banget cuy. Padahal Busnya sekelas bus Kopaja yang ACnya berasal dari alam alias angin sepoi-spoi from Jendela.
Walaupun Parung masih bagian dari Bogor tetapi jaraknya lumayan jauh. Sehingga wujud parung sangat berbeda dengan kota Bogor. Kalau tidak percaya Kalian cek aja di google, yang keluar pasti ‘parung kota amburadul’, eh parung bukan kota deng.
Saat itu kami turun di jantung kota Bogor tepatnya di Botani Square, itu loh mall paling kece di Bogor yang deket Tugu Kujang. 

Tiba-tiba aja  adekku teriak histeris :
Adek : “Loh ko kita malah ke Yunani ka ?”
Ponakan : ‘Ka! Ini beneran di Bogor ko kayak di Yunani!?’
Me : ‘Kayak pernah ke yunani aja lu pada!’ *aku bingung
Adek : ‘Itu loh ka ada bangunan Yunani Kuno’ *sambil menunjuk bangunan tiang-tiang tinggi yang dia maksud.
Me : ‘Etdah itumah lawang salapan’
Seketika aku langsung diseret untuk foto-foto di Lawang salapan.

MAIN-MAIN DI TEPAS LAWANG SALAPAN BOGOR

Sebelum ke Tepas lawang salapan kami melewati underpass alias terowongan bawah tanah yang memiliki fungsi ganda sebagai tempat pameran seni, sesuai dugaanku kedua bocah tengil itu pasti bakal minta difotoin di underpass. Bagus katanya banyak karya seni nempel-nempel di dinding.
Udah pegel foto-foto di Underpass kami langsung menuju Tepas Lawang Salapan. Saat itu hanya ada beberapa orang saja yang nongkrong-nongkrong. Suasana yang sepi membuat kedua adikku semakin menggila. Mereka minta difotoin dengan berbagai pose. Anehnya aku menurut. khilaf

Setelah menggila di Tepas Lawang Salapan kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Kebun Raya Bogor. Karna jaraknya lumayan jauh jadi kami sering berhenti di bawa pohon-pohon yang adem sambil ngobrol-ngobrol tentang asal-usul dan sejarah Lawang Salapan.
Ternyata segala hal yang ditanyakan adikku terkait tepas Lawang Salapan membuatku bingung dan gelagapan. Sebagai makhluk yang sudah lama tinggal di Bogor aku merasa gagal. Satu-satunya pemecahan masalah adalah dengan bertanya ke google.



APA SIH MAKNA TEPAS LAWANG SALAPAN BOGOR ?
Jika diurutkan maka makna Tepas Lawang Salapan Dasakerta berarti :
Tepas : Beranda depan
Lawang : Pintu / Gerbang.
Yang merupakan simbol filosofi utama Pakuan Pajajaran, yakni Silih Asih, Silih Asah, dan Silih Asuh.
Salapan : Sembilan.
Yaitu sembilan acuan kesejahteraan, di antaranya kedamaian, persahabatan, keindahan, kesatuan, kesantunan, ketertiban, kenyamanan, keramahan, dan keselamatan.
Dasakreta : (Dasa = 10) bermakna tentang 10 hal yang harus dijaga dari perilaku buruk, terkait jasmaniah dan rohaniah
Sedangkan jika kita melihat kebagian atas bangunan Lawang Salapan maka akan terlihat tulisan ‘DI NU KIWARI NGANCIK NU BIHARI SEJA AYEUNA SAMPEUREUN JAGA’ yang bahkan aku sendiripun tidak tahu apa maknanya karn aku orang sunda KW. Tapi menurut situs Lovely Bogor kalimat itu berarti :
Segala hal di masa kini adalah pusaka di masa silam, dan ikhtiar hari ini adalah untuk masa depan. apa yang kita nikmati hari ini adalah warisan pendahulu, dan apa yang kita nikmati sekarang akan diwarisi untuk generasi berkutnya.
Sebuah peribahasa bijak yang diambil dari nenek moyang masyarakat Sunda di Bogor, yaitu kerajaan Pakuan Pajajaran dengan pemimpin agungnya Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi. (Sumber: Bogor Lovely)
Nah sampai di sini sudah paham yah makna Tepas lawang salapan Dasakerta.

Bangunan yang baru berdiri sejak tahun 2016 ini menjadi ikon terbaru kota Bogor. Tidak hanya sebagai pemanis jalanan, Lawang Salapan juga bisa di jadikan sebagai tempat wisata murah meriah. Terbukti siapapun yang melewatinya pasti akan terkagum-kagum dengan kecantikanya, oleh sebab itu kawasan ini selalu ramai di penuhi pengunjung baik siang maupun malam.
Sebagian orang ada yang bertanya, mengapa tepas lawang salapan harus dibangun ? memangnya apa sih kegunaanya ? kenapa Lawang Salapan dibangun di kawasan itu ? kenapa tidak di sini saja ?. Oh well, lagi-lagi saya membutuhkan om google.



APA TUJUAN DIBANGUNYA TEPAS LAWANG SALAPAN BOGOR ?
Menurut beberapa sumber yang saya baca, Tepas Lawang Salapan dibangun untuk memperkuat karakter Kota Bogor sebagai Kota Pusaka. Hal ini mengacu pada peraturan Walikota nomor 17 tahun 2015 tentang penyelenggaraan Kota Bogor sebagai Kota Pusaka.
Walaupun masih banyak yang pro kontra terhadap bangunan ini karna memakan biaya yang tidak sedikit yanitu mencapai 3 Miliar. Tetapi saya sebagai wargi bogor merasa gembira sebab kawasan Bogor menjadi terlihat lebih cantik, artistik dan historik. Namun yang terpenting adalah kota Bogor dapat lebih bersih.




Sangat Berbeda suasananya sebelum dan sesudah adanya tepas lawang salapan. Dulu di sekitar tugu Kujang seperti tidak keurus dan awut-awutan. Ditambah jalan raya yang luar biasa macet. Ah, membayangkanya saja sudah sangat BT.
Kalau sekarangmah sudah cantik dan nyaman. Disepanjnag jalan di Bogor juga terdapat trotoar khusus pedestrian. So, Untuk orang yang hobi jalan kaki dan sepedahan seperti saya, trotoar ini sangat berjasa sekali.
Dulu saat aku ingin berjalan kaki aku harus berjuang melewati jalanan yang berlubang dan jika hujan turun sepanjang jalanan akan penuh oleh lubang air lalu menjadi kolam renang kodok.
Aku juga harus mati-matian melewati tukang asongan ilegal yang berjualan ditempat yang tidak semestinya, kawasan pejalan kaki menjadi kawasan jualan dan parkir liar. Bahkan yang paling menjengkelkan yaitu banyak sudut di kota Bogor yang bau pesing karna banyak orang pipis sembarangan.
Tapi sekarang saya tidak lagi merasakan keluhan-keluhan tersebut. Alhamdulillah kota Bogor sudah dirombak menjadi lebih baik Walaupun masih banyak yang harus dibenahi sih, tetapi saya merasa sangat bersyukur dan Sekali lagi ingin berterimakasih kepada siapapun yang telah membuat pedestrian.


Setelah seharian keliling kota Bogor akhirnya kami kembali pulang ke Parung sambil membawa oleh-oleh berupa foto-foto alay berjumlah ribuan, bahkan memoryku sampe ga muat. Heran sama kedua kurcaci itu kenapa suka banget foto-foto. Keturunan siapa si lu pada ?!

APASIH ADAT SEREN TAUN ITU ?


“Sejauh apapun kaki melangkah, akan selalu ada rumah tempat kembali"
Setiap orang pasti mempunyai kampung halaman. Disanalah kita lahir dan tumbuh sebagai manusia, dan ditempat itu pula awal dari perjalanan kita mengenal dunia.
Maka tidak heran jika kampung halaman menjadi tempat yang paling dirindukan oleh setiap insan, apalagi bagi mereka yang sudah lama merantau ke negeri orang. Rasa ingat kampung pasti selalu hinggap di hati.
Begitupun denganku, bertahun-tahun mengadu nasib di kota lain membuatku selalu ingat kampung halaman. Bagiku, kampung halaman tidak hanya menjadi tempat terbaik untuk pulang tapi juga tempat paling nyaman yang pernah ku punya.
Jauh dari kampung halaman bukanlah hal yang baru buatku. Sebab aku sudah merantau sejak kelas 6 SD. Bayangin aja, dari kecil aku sudah nyuci baju sendiri, nyetrika sendiri, nyiapin perlengkapan sekolah sendiri, makan sendiri. Terus kalau mau ambil raport tiap semester aku harus 'nyewa' kakak-kakak yang lebih dewasa buat jadi wali. Makanya guru ku kebingungan karna tiap ngambil raport wali yang aku ajak berbeda-beda.

Masa-masa kelam itu selalu membuatku rindu kampung halaman. Tidak hanya rindu keluarga dirumah, tapi juga rindu setiap sudut kampung  yang tidak pernah aku temui di tempat lain. Apakah kamu tahu dimana letak kampungku itu ?
Ya, Kampung halaman itu bernama Bogor. Bogor mah kota
Bogor yang dikenal dengan kota hujan memiliki pemandangan alam yang tidak bisa digambarkan. Keindahan Bogor sering dijadikan primadona tempat wisata yang sering dikunjungi baik untuk masyarakat lokal maupun turis mancanegara.

Bayangkan saja, hampir setiap minggu Kota Bogor selalu dibanjiri oleh wisatwan. Kadang ada aja gitu Bule yang berlalu lalang sama Bule. Katanya mereka seneng karna cuaca Bogor adem dan gakjauh dari pusat ibu kota sehingga membuat kota Bogor menjadi alternatif yang tepat untuk berakhir pekan.

Selain memiliki banyak icon wisata, Bogor juga memiliki sederet kuliner lezat yang wajib dicoba. Namun, dari semua keunggulan yang dimiliki Bogor, ada satu hal menarik yang membuatku selalu ingat kampung halaman, Yaitu kekayaan Budaya dan tradisi Bogor yang banyak sekali jumlahnya, salah satunya seperti Budaya adat Seren Taun di kampung budaya Sindang Barang.



Sebetulnya adat seren taun ini aku ketahui dari kejadian yang tidak di sengaja. Jadi gini, dulu habis lulusan SMK aku langsung berpindah ke Ciapus, Bogor untuk melanjutkan kuliah. Saat itu aku kebingungan untuk memilih angkot karna jumlah angkot di Bogor ada ribuan.

Singkat cerita,

Aku salah naik angkot, seharusnya jurusanku ke daerah Ciapus Bogor tetapi angkotku malah ke daerah SBR a.k.a SindangBarang. Awalnya aku yakin kalau angkotku sudah benar tetapi setelah beberapa lama perjalanan akhirnya aku curiga kalau aku kesasar, lalu aku tanya ke tukang angkotnya dan ternyata benar angkot ini mengarah ke sindang Braang, bukan ke Ciapus tujuanku.

Tapi dari situ aku banyak ngobrol sama tukang angkot yang asli orang SIndangbarang. Kata beliau, Kampung Sindang Barang punya tradisi unik yang bernama Seren Taun. Beliau juga menceritakan segala hal tentang Kampungnya yang membuatku tertarik sampai aku membuat postingan khusus di Blog ini.

Untuk yang belum tahu, adat Seren taun merupakan upacara adat yang diselenggarakan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala hasil pertanian yang telah didapat.

Seren Taun sendiri berasal dari kata ‘seren’ yang berarti serah, seserahan atau menyerahkan, dan ‘Taun’ yang berarti tahun. Jadi seren taun bermakna Seserahan tahunan.
Upacara yang dilakukan setiap setahun sekali ini telah diselenggarakan di berbagai tempat di tanah Sunda, seperti :
  • Desa Cigugur, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
  • Kasepuhan Banten Kidul, Desa Ciptagelar, Cisolok, Kabupaten Sukabumi
  • Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten
  • Kampung Naga Kabupaten Tasikmalaya
  • Dan terakhir tentu saja dari kampung halamanku yaitu Desa adat Sindang Barang, Desa Pasir Eurih, Kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor.

Tradisi seren taun sendiri sudah ada sejak ratusan silam dari zaman kerajaan padjajaran. Di zaman dulu, Seren Taun merupakan wujud rasa syukur kepada sang dewi padi dalam kepercayaan Sunda kuno yang dikenal dengan Nyi Pohaci Sanghyang Asri. 

Tapi sekarang, hanya sebagai ajang pelestarian budaya saja dan menjadi atraksi wisata. Sehingga tidak salah jika tradisi seren taun akan dihadiri oleh banyak wisatawan untuk menonton rangkaian upacara seren taun yang unik.
Rangkaian ritual upacara Seren Taun berbeda-beda dan beraneka ragam antara satu desa dengan desa lainya. Akan tetapi intinya adalah prosesi penyerahan hasil bumi berupa padi yang dihasilkan dalam kurun waktu satu tahun untuk disimpan ke dalam lumbung atau dalam bahasa Sunda disebut leuit.
Adapun rangkaian upacara seren taun di Sindangbarang Bogor diawali dengan menyimpan berbagai hasil panen bumi seperti padi, buah-buahan, sayur mayur atau bahkan mata pencaharian lain seperti sandal atau sepatu. Mengingat masyarakat Bogor banyak sekali yang bekerja sebagai pengrajin sendal dan sepatu di rumah-rumah mereka.
Semua hasil panen ini diberikan secara sukarela dari para warga, lalu hasil panen dimasukkan kedalam dongdang (pikulan) untuk diarak. Sebelum melakukan arakan para warga diberkati dulu dengan percikan air yang telah didoakan. O iya, air doa ini bukan sembarang air loh, karna diambil dari beberapa curug atau sumber mata air di beberapa tempat di desa Sindang Barang. 
Setelah hasil panen sudah terkumpul, para warga berjalan kaki sepanjang 2 KM untuk berpawai menuju Imah Gede. Imah Gede merupakan sebutan dari tempat yang dihuni oleh para pupuhu atau sesepuh kampung. Setelah itu para warga dan sesepuh berkeliling kampung sambil membawa padi dan hasil panen lainya sambil menampilkan kesenian disepanjang jalan menuju alun-alun kampung budaya Sindang Barang.
Saat melakukan pawai para warga sudah antusias berkumpul di pinggir jalan untuk menyaksikan kemeriahan pawai. Ada juga warga yang ikut menyambung pawai sehingga barisan pawai menjadi semakin panjang dan meriah.
Sesampainya di kampung budaya Sindang Barang, hasil bumi yang telah dibawa dikumpulkan di alun-alun, kemudian tetua adat membacakan beragam doa-doa dilanjutkan dengan melakukan ritual pare ambu dan pare ayah, yaitu memasukkan hasil panen kedalam lumbung padi.
Lumbung padi di kampung budaya Sindang Barang berbentuk rumah-rumahan khas yang terbuat dari kayu. Lumbung ini memang dikhususkan untuk menyimpan padi yang digunakan sebagai persediaan pangan warga sekitar Kampung Budaya Sindang Barang selama satu tahun penuh. 
Ketika semua padi sudah dimasukkan ke dalam lumbung, dongdang yang berisi makanan dan kue-kue yang sudah diarak kemudian menjadi rebutan para warga. Parebut Dongdang ini menjadi ritual penutup atau acara puncak dalam upacara Seren Taun. Konon, siapapun yang berhasil mendapatkan hasil bumi dalam parebut dongdang diyakini akan mendapat keberkahan dan kesejahteraan.

Upacara tradisional seren taun yang berlangsung selama tujuh hari ini tidak hanya dikunjungi oleh wisatawan lokal saja tapi juga oleh wisatawan asing. Sehingga acara ini sangat cocok untuk menambah pengetahuan tentang khazanah kebudayaan sunda.
Selain ritual acara seren taun, upacara ini juga dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan kesenian seperti tarian, pertunjukkan musik dan lain-lain. Adat Seren Taun mengajarkanku bahwa tradisi ini tidak hanya menjaga hubungan baik dengan tuhan dan sesama manusia, tetapi juga kepada alam sebagai penopang kehidupan manusia.

Bogor merupakan salah satu satu kawasan yang kaya akan budaya. Adat seren taun hanyalah satu dari sekian banyak budaya di Bogor yang membuatku selalu inget kampung halaman. So, jika kalian sedang mampir di kota Bogor cobalah untuk berwisata budaya. Keunikan budaya Bogor sangat sayang jika dilewatkan.

Entah mengapa setiap kali menghadiri festival Budaya Bogor, aku selalu melihat pagelaran budaya baru yang belum pernah aku temui sebelumnya. Hal ini menandakan bahwa Bogor benar-benar kaya akan budaya. Contohnya seperti Kemeriahan Festival Hari Jadi Bogor Ke-535 yang diselenggarakan pada tanggal 17 juli 2017 kemarin.


Nah, itulah kejadian tidak sengaja yang membuatku inget kampung halaman. kalo inget kampung versimu apa ? Ada ga sih adat unik yang pernah kamu temui dikampungmu ? Yuk ceritain di kolom komentar. Aku tunggu ya :)


"Bogor selalu punya cerita menarik yang bahkan ditulispun tak akan pernah habis."

PENDAKIAN MISTIS DI GUNUNG LAWU 3.265 MDPL YANG TIDAK BANYAK ORANG KETAHUI

Setelah sekian lama fakum dari dunia pendakian, akhirnya minggu ini aku berhasil mendaki lagi, yaitu ke Gunung Lawu ! Yaay!
Sebetulnya wacana pendakian ke Gunung Lawu sudah sering aku rencanakan tetapi tidak pernah terealisasi, entah kenapa selalu ada saja halanganya. Dari mulai ga ada duit sampe ga ada waktu luang karna bentrok dengan pekerjaan dan menyesuaikan partner hiking yang sibuk kawin.
Tapi pada akhirnya aku menemukan waktu yang tepat untuk melakukan pendakian yaitu sehabis lebaran, sebab selain banyak tanggal merahnya, saat itu juga aku punya beberapa lembar uang THR yang bisa di pakai untuk ongkos pendakian.
So, seminggu sebelum keberangkatan aku langsung booking tiket Bus Rosalia Indah ke Solo. Namun, satu hal tidak pernah aku pikirkan sebelumnya yaitu harga transportasi saat lebaran ternyata meningkat dua kali lipat lebih mahal. Sehingga, aku harus merogoh kocek yang lebih besar. jadi untuk kamu yang ingin liburan saat lebaran lebih baik dipikir-pikir lagi deh yah.
Awalnya aku ingin menggunakan Kereta Api karna tarifnya lebih murah, sayangnya aku kehabisan tiket. Entah kenapa dari dulu aku selalu gagal naik kereta api. Sepertinya aku memang ditakdirkan untuk tidak naik kereta api huhu.
Tiga hari selepas lebaran aku langsung izin ke Ibuku untuk pergi ke Solo. Aku sama sekali tidak bilang ingin melakukan pendakian sebab ibuku pasti tidak akan mengizinkan. Tapi anehnya dia selalu tahu kalau aku akan mendaki gunung -_- . *Ah naluri seorang ibu memang keterlaluan.
Singkat cerita, setelah sedikit cekcok dengan ibuku akhirnya aku diziinkan juga naik gunung hehe.
Sesampainya di PO. Bus Rosalia Indah Tajur, Bogor, aku langsung mengantri untuk melakukan check in. Saat itu banyak sekali manusia yang memenuhi loket karcis, sepertinya mereka sedang berjuang untuk mendapatkan selembar tiket mudik. Sempat sedih melihatnya karna ada beberapa orang yang kehabisan tiket Bus or even tidak jadi membeli tiket karna harga yang ditawarkan jauh lebih mahal dari biasanya.
Dari kejadian itu aku jadi mikir, sepertinya hari itu banyak banget yang melakukan mudik. Kira-kira perjalanan nanti bakal macet banget ga yah ? semoga lancar jaya.



Singkat cerita.
Ternyata perjalanan kali ini ngaret, sebab bus yang akan aku tumpangi masih belum sampai. Jadi aku harus ngebangke dulu lebih dari 2 jam di terminal. Harusnya keberangkatan dimulai dari jam 2 siang tetapi delay hingga jam 4 sore. Kraay !
Awalnya sempat kesal karna jadwal yang sudah aku susun jadi hancur berantakan, tetapi setelah melakukan perjalanan aku langsung bersyukur karna ternyata arus lalulintas tidak semacet yang aku bayangkan. Sehingga aku sudah sampai di Solo sekitar jam 3 pagi. Gila cuy cepet banget!.
Setelah sampai di Solo aku langsung melanjutkan perjalanan menuju Klaten, itu artinya aku harus menunggu kendaraan berikutnya yang bisa aku tumpangi. Sayangnya saat itu aku sama sekali tidak menemui kendaraan umum, transportasi online juga tidak tersedia. Jadilah aku ngegembel di pinggir jalan.
Tidak beberapa lama akhirnya datang bus jurusan Solo – Jogja. Awalnya aku tidak tahu harus menggunakan bus ini, tetapi setelah bertanya kesana kemari akhirnya aku tahu kalau Bus ini bisa mengantarkanku sampai Klaten. Memang benar kata nenek moyang kita dulu, malu bertanya sesat di jalan, banyak bertanya malu-maluin.
Setelah naik bus Solo-Jogja aku langsung minta tolong si mas-mas untuk menurunkanku di daerah Ceper, Klaten. Tetapi malah kelewatan beberapa meter sehingga aku harus jalan sendiri ke lokasi tujuanku yaitu basecamp Fatapala yang merupakan tempat ngumpulnya anak-anak pecinta alam yang akan melakukan pendakian ke gunung Lawu.
Sesampainya di basecamp Fatapala aku langsung shalat subuh dan repacking bareng kedua rekanku yang akan menemaniku mendaki gunung Lawu. Walau sebetulnya ada beberapa rekanku yang ingin ikut ekspedisi pendakian kali ini tetapi karna bentrok dengan mudik jadi hanya kami saja yang dapat menyempatkan diri.

PENDAKIAN GUNUNG LAWU VIA CEMORO KANDANG

Seperti halnya gunung Ciremai dan gunung Prau, Gunung Lawu juga terletak di antara tiga kabupaten yaitu Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Kabupaten Ngawi, dan Kabupaten Magetan, Jawa Timur.
Gunung Lawu sendiri memiliki dua jalur yang dapat di tempuh untuk memulai pendakian yaitu jalur Cemoro kandang di Tawangmangu-Jawa Tengah dan Jalur Cemorosewu, di Sarangan-Jawa Timur.
Berhubung kami sedang berada di Klaten jadi kami memilih jalur yang paling dekat yaitu jalur Cemoro Kandang. Namun, jika kamu ingin melakukan pendakian melalui jalur Cemoro Sewu kamu bisa berjalan lagi sejauh 200 Meter untuk sampai ke Jalur Cemoro Sewu.
Adapun jarak tempuh dari Klaten sampai basecamp Cemoro Kandang yaitu sekitar 2 jam menggunakan sepeda motor. Pegel sih harus membawa carier segede gaban sambil naik motor. Untungnya sepanjang perjalanan bisa melihat pemandangan pepohonan berwarna hijau. Jadi selain bisa menyegarkan mata rasa pegel juga bisa sedikit berkurang. Believe me it works !



Setelah berjuang melewati perjalanan yang naik turun dan berlika liku akhirnya kami sampai di pos pendakian Cemoro Kandang. Saat itu banyak sekali wisatawan yang berdatangan tetapi tidak semuanya para pendaki, sebab pos Cemoro Kandang yang berada di kaki gunung Lawu ini selain dijadikan jalur utama pendakian juga digunakan sebagai tempat wisata. Terlihat di beberapa sudut banyak keluarga yang piknik bahkan sampai ada panggung musiknya segala.
Menurut sebagian pendaki, jalur Cemoro Sewu lebih indah dan jarak tempuhnya lebih cepat. Namun walaupun begitu trek di jalur Cemoro Kandang lebih landai. Sehingga jalur ini sering digunakan warga sekitar untuk berziarah ke atas gunung Lawu menggunakan kuda. Jika kamu beruntung kamu akan melihat ritual ziarah tersebut. Sayangnya saat itu aku tidak melihat para peziarah.
Gunung lawu memang terkesan religius, terlihat di beberapa sudut gunung lawu terdapat banyak sekali tempat sakral yang digunakan untuk menyimpan sesajen. Salah satunya seperti tempat berikut yang aku temui di posko Cemoro Kandang.

BERAPA HARGA TIKET MASUK KE GUNUNG LAWU ?

Sebelum melakukan pendakian kami melakukan pendaftaran (simaksi) terlebih dahulu di Posko Cemoro Kandang dengan menyerahkan kartu identitas/KTP dan membayar tiket masuk sebesar Rp. 15.000/Orang dan parkir Rp. 7.500/malam. Menurutku harga yang ditawarkan relatif murah karna sebanding dengan fasilitas yang disediakan. Seperti kamar mandi, mushala, ruang untuk beristirahat, aula dan tempat parkir yang luas.
(Btw, harga tiket masuk ini terhitung sejak tahun 2017 ya. Jika ada yang punya info HTM terupdate langsung komentar di bawah ya)
Namun, hal yang patut disayangkan adalah kami tidak di beri lembaran peta pendakian, jadi kami harus memfoto peta secara manual di papan reklame yang ada di depan posko. Padahal di beberao gunung yang pernahku kunjungi selalu di beri lembaran peta loh.

PENDAKIAN GUNUNG LAWU PUN DIMULAI

Setelah melakukan pendaftaran barulah kami memulai pendakian tentunya dengan diawali doa bersama terlebih dahulu. Saat itu waktu menunjukkan pukul 12 siang. Walaupun matahari berada tepat di ubun-ubun tetapi cuaca di gunung Lawu sangat adem dan bersahabat.
BASECAMP – POS 1 (TAMANSARI BAWAH)
Dari Posko Cemoro Kandang menuju pos 1 jalur yang kami lalui lumayan mudah, cocok untuk peregangan otot dan pemanasan pantat hee. Namun saat turun hujan jalur ini bisa sangat licin karna sepanjang perjalanan terbuat dari tanah dan tangga dari bebatuan. Untungnya saat itu cuaca sedang bagus sehingga perjalanan kami terasa enjoy.



Saat memasuki kawasan ini kamu juga akan melewati berbagai macam pepohonan hijau yang menjulang tinggi dan air terjun ‘Studio Alam’ yang entah bagaimana wujudnya karna aku sendiri tidak jadi mampir karna keburu capek. Tetapi kalau kamu ingin tahu bagaimana keindahan air terjun Studio Alam kamu bisa langsung menuju blog ‘Bang Wisnu’ di Halaman berikut Ini.
Setelah berjalan kurang lebih 1 Jam, akhirnya kami sampai di pos 1 Tamansari Bawah. Di pos ini terdapat bangunan dari batu yang bisa dipakai untuk ngadem. Biasanya pada hari-hari tententu di Pos ini akan ada mas-mas yang buka stand untuk jualan jajanan. Kemarin saja aku sempat ngutang goreng pisang sama bakwan.



POS 1 – POS 2 (TAMANSARI ATAS)
Menuju pos 2 jalur pendakian sedikit curam tetapi masih mudah untuk di lewati. Namun, yang membuatku terheran-heran adalah sepanjang perjalanan di jalur ini terdapat banyak sekali ulet berwarna hitam. Entah dari mana ulet-ulet itu berasal tetapi fenomena misterius ini sukses membuatku Gelisah alias geli-geli basah karna uletnya bukan berjumlah satuan tetapi ribuan, Sehingga aku harus memilih tanah yang akan kupijak supaya tidak mengenai ulet-ulet tersebut.



Tidak beberapa lama tiba-tiba aku mendengar suara gemuruh dari kejauhan. Aku pikir itu suara air terjun atau pesawat lewat, tetapi setelah melihat peta ternyata itu suara kawah Condrodimuko, pantas saja dikawasan ini tercium bau kentut alias bau belerang yang sangat menyengat.
Setelah berjalan kurang lebih 2 jam akhirnya kami sampai di pos 2. Disini kami bertemu dengan 2 pendaki cilik yang berumur sekitar 10 dan 11 tahun yang sedang mendirikan tenda bersama ayahnya. Mereka tidak dapat melanjutkan perjalanan karna anak-anak itu sudah kecapean. Tetapi aku tetap salut karna saat ini banyak sekali anak-anak yang berani mendaki gunung, nah kalo kamu kapan mblo ?



POS 2 – POS 3 (PENGGIK)
Menuju pos 3 jalur pendakian lumayan banyak bonusnya (Bonus yaitu istilah pendakian jika jalur yang dilewati landai dan ga bikin encok). Disini kami juga melewati sumber mata air dan sungai yang telah mengering.
Tidak beberapa lama tiba-tiba kabut turun padahal sebelumnya cuaca sangat cerah, sehingga kami harus ekstra hati-hati karna jalur yang kami lewati seringkali tidak terlihat. Selain itu, jalur ini juga sangat sempit karna hanya dapat dilalui oleh seorang pendaki saja. Namun, hal yang membuatku tercengang adalah ternyata disebelah kanan kami terdapat tebing bebatuan yang sangaaaat tinggi dan di sebelah kirinya langsung jurang yang sangat dalam. Hal ini baru aku ketahui setelah turun gunung keesokan harinya saat kabut sudah hilang.




Sepanjang perjalanan banyak kutemui papan larangan untuk berhenti karna di jalur ini seringkali terjadi tanah longsor. Terlihat dibeberapa sudut terdapat jalanan dan jembatan yang sudah rusak oleh longsor. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa trek yang mengerikan selalu memiliki keindahan tersendiri. Buktinya di jalur ini kita dapat menikmati pemandangan hutan pinus dari kejauhan yang luar biasa indah.
Tidak beberapa lama akhirnya aku melihat Pos pemberhentian. Aku pikir sudah sampai di pos 3 ternyata hanya Pos Bayangan wkwk. Itu artinya kami harus melakukan setengah perjalanan lagi. Kerasa banget kayak di PHPin.

Dari pos Bayangan tiba-tiba kepalaku terasa puyeng, pengen pingsan saja rasanya. Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil shalat zuhur plus ashar. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan dan tiba-tiba langsung nyampe aja gitu di pos 3 Penggik haha. Seneng banget rasanya karna dari sini kami sudah bisa menyaksikan gumpalan awan yang amazing banget.



Di pos ini sudah ada beberapa pendaki yang mendirikan tenda. Seperti biasa kami beristirahat sejenak sambil curhat dengan pendaki lain. Biasanya kalau bertemu dengan sesama pendaki hal yang dibahas ga jauh-jauh dari menanyakan asal, jumlah rombongan ada berapa? dan naik dari kapan? Masih jomblo ya? Terus jadian deh.
POS 3 – POS 4 (COKROSURYO)
Pendakian menuju Pos 4 kami melewati jalur yang meliuk-liuk dan sangat terjal. Sehingga kami harus berhati-hati agar tidak kepeleset jatuh ke jurang lalu mati konyol.
Sebetulnya disini banyak sekali jalur yang dapat dilalui sampai-sampai aku kebingungan memilih jalur yang tepat karna sepanjang perjalanan tidak terdapat petunjuk arah. Namun, aku tetap memilih jalur yang aman. inget gan safety first

E tapi, pas keesokan harinya setelah turun gunung aku jadi penasaran yaudah aku lewat jalur terlarang saja. Dan ternyata treknya curam banget guys, untuk melewatinya kita harus merayap lewat bebatuan yang tinggi-tinggi banget. Kira-kira tanjakanya antara lutut bertemu dagu. Unch pantas saja dilarang. 

Btw Jangan meniru ulahku ya, terkadang aku nakal :(

Waktu menunjukkan pukul 5 sore, itu artinya impian kami mendirikan tenda di puncak gunung Lawu sebelum matahari terbenam gagal. Tetapi kami patut bersyukur karna melalui jalur ini kami sudah disuguhi pemandangan yang mengagumkan. Gumpalan awan berwarna orange disinari cahaya sunset dari ufuk barat. Sumpah gaes ini indah banget, kalian harus lihat sendiri kesini.


Tidak beberapa lama suara azan maghrib terdengar dari bawah sana. Dan kemerlap lampu perkotaan semakin mempercantik view gunung Lawu.
Sesampainya di pos 4 kami langsung mendirikan tenda. Lahan di Pos 4 memang cukup luas jadi sangat cocok untuk beristirahat, terlihat sudah banyak pendaki yang memasang tenda sambil bernyanyi dan bercengkrama satu sama lain.



Setelah memasang tenda kami langsung melaksanakan shalat maghrib dan isya dilanjutkan dengan masak-masak manja untuk makan malam. Saat itu udara terasa dingin, bahkan jaket dan sleeping bag yang telah ku pakai serasa ga guna. Sampai akhirnya sekitar jam 9 malam barulah aku bisa tertidur ditemani taburan bintang atap gunung Lawu yang keindahanya ga bisa di jelaskan.
POS 4 – POS 5 (HARGO DALAM)
Jam 4 pagi alarm ku berbunyi, itu artinya kami harus get up dan melanjutkan perjalanan untuk berburu sunrise. Setelah menyiapkan headlamp dan beberapa lampu penerang kamipun berjalan menuju pos 5 sambil merem melek karna masih ngantuk.
Jalur menuju pos 5 kebanyakan terbuat dari bebatuan, namun yang membuatku kesulitan adalah hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang. Salah banget saat itu aku memakai celana pendek supaya keliatan seksi. Argh jadi pengen balik ke tenda ngelanjutin bobo :(.

Setengah jam perjalanan akhrinya kami sampai di pos 5. Tidak seperti pos sebelumnya disini tidak ada bangunan sama sekali. Hanya ada papan penunjuk jalan dan tulisan Pos 5 hargo dalam.
POS 5 – PUNCAK HARGO DUMILAH 3.265 MDPL
Pos 5 merupakan pos terakhir di gunung Lawu, kamipun jadi semakin semangat untuk mencapai puncak. Hingga akhirnya setelah setengah jam perjalan kami sampai di puncak Hargo Dumilah yang merupakan puncak tertinggi gunung lawu dengan ketinggian 3265 MDPL. Yaay!



Saat itu belum ada pendaki lain selain kami, itu artinya kami orang pertama yang sampai ke puncak. Tapi sayangnya waktu masih menunjukkan pukul 5 pagi dan suasana masih sangat gelap. Kamipun memutuskan untuk shalat subuh sambil menunggu matahari terbit a.k.a sunrise.



Tidak beberapa lama satu-dua pendaki mulai berdatangan hingga akhirnya puncak Gunung Lawu ramai dibanjiri pengunjung. Malang sekali nasibku ingin berfoto di bawah tugu Hargo DUmilah pun harus mengantri. But so far, kami sangat bersyukur bisa mencapai puncak gunung Lawu :)




MBOK YEM, LEGENDA PENUNGGU GUNUNG LAWU

Sudah puas berselfie ria di puncak kamipun memutuskan untuk turun kembali ke tenda. Sayangnya saat itu banyak sekali pendaki yang memadati jalur pendakian jadi kami terpisah satu sama lain. alhasil aku ngegembel sendirian di gunung.
Saat itu aku sempat nyasar ke jalur yang tidak seharusnya ku lewati, yaitu ke jalur Cemorosewu. Sebetulnya pengalaman kesasar ini disebabkan karna aku tertarik dengan salah satu spot yang banyak di banjiri pendaki yaitu warung Mbok Yem di Hargo Dalem.




Gila sih sempet kaget ternyata di puncak gunung lawu terdapat warung yang menjual berbagai macam makanan. Tau gini aku ga usah capek-capek bawa logistik. So, untuk kamu yang ingin mendaki gunung Lawu ga usah takut mati kelaparan karna disini banyak warung. Dan menurut rumor yang beredar gunung Lawu juga akan membangun minimarket dan bioskop di puncaknya, hehe yakali.
Selain warung, dikawasan ini juga terdapat+ sarana toilet dan tempat peribadatan untuk menyimpan sesajen. Pantas saja dari setadi aku selalu mencium bau kemenyam. Tapi jika kamu turun sedikit lagi menuju jalur Cemorosewu kamu akan melihat pemandangan savana dan rock balance yang keren.
Wah beruntung banget untuk mereka yang mendaki melalui via Cemorosewu karna banyak spot cantik yang dilewati salah satunya seperti Candi Cetho dan padang savana yang instagram banget buat foto-foto.

Berhubung hari sudah mulai siang, akupun segera kembali ke pos 4 dan packing barang-barang untuk melakukan turun gunung. Seperti biasa turun gunung selalu lebih cepat daripada naik gunung. Sehingga aku bisa memanfaatkan waktu yang tersisa untuk wisata kuliner ke beberapa tempat makan di Solo yang enak-enak tapi harganya murah meriah. Salah satunya seperti Soto Solo yang bening tapi rasanya maknyus !

SUMBER AIR DI GUNUNG LAWU

Sumber mata air merupakan tempat penting yang kerapkali dimanfaatkan para pendaki untuk minum jikalau sewaktu-waktu persediaan air yang dibawa telah habis.

Di gunung Lawu sendiri terdapat beberapa titik sumber air yang bisa di manfaatkan. Namun, akan sedikit sulit ditemukan sebab gunung Lawu memiliki banyak sekali jalur. Tetapi itu bukan masalah besar, karna kamu dapat dengan mudah membelinya di beberapa warung yang ada di Hargo Dalem, seperti di warung Mbok Yem misalnya.

Namun akan lebih baik jika kamu sudah membawa persediaan air sendiri sebelum kamu memulai pendakian. Mengingat kelengkapan logistik saat naik gunung merupakan hal yang tidak boleh di sepelekan.

KALKULASI WAKTU PENDAKIAN VIA CEMORO KANDANG

Pos 1 - Pos 2 (1 Jam)
Pos 2 - Pos 3 (2 Jam)
Pos 3 - Pos 4 (2 Jam)
Pos 4 - Pos 5 (1 Jam)
Pos 5 - Puncak (1 Jam)
Overall, aku seneng banget bisa naik gunung Lawu walaupun harus menguras uang, waktu dan tenaga yang sangat besar. 

Rencananya pendakian berikutnya aku ingin menuntaskan Triple S dulu yaitu Sindoro, Sumbing dan Selamet. So, doakan aku ya kawan-kawan semoga impianku bisa tercapai.

Okedeh, sampai jumpa di cerita pendakian berikunya. Dan jangan lupa tonton video Pendakian Gunung Lawu berikut ini supaya kamu dapat menikmati keindahan gunung Lawu lebih real lagi. Pastikan juga kamu subscribe dan like video ku yah mueheh.



Jangan mendaki gunung agar dunia bisa melihatmu. 
Naiki ia agar kau bisa melihat dunia.
- @khairulleon -