PENDAKIAN MISTIS DI GUNUNG LAWU 3.265 MDPL YANG TIDAK BANYAK ORANG KETAHUI | KHAIRULLEON.COM

VIDEO TERBAIK MINGGU INI

PENDAKIAN MISTIS DI GUNUNG LAWU 3.265 MDPL YANG TIDAK BANYAK ORANG KETAHUI

Setelah sekian lama fakum dari dunia pendakian, akhirnya minggu ini aku berhasil mendaki lagi, yaitu ke Gunung Lawu ! Yaay!
Sebetulnya wacana pendakian ke Gunung Lawu sudah sering aku rencanakan tetapi tidak pernah terealisasi, entah kenapa selalu ada saja halanganya. Dari mulai ga ada duit sampe ga ada waktu luang karna bentrok dengan pekerjaan dan menyesuaikan partner hiking yang sibuk kawin.
Tapi pada akhirnya aku menemukan waktu yang tepat untuk melakukan pendakian yaitu sehabis lebaran, sebab selain banyak tanggal merahnya, saat itu juga aku punya beberapa lembar uang THR yang bisa di pakai untuk ongkos pendakian.
So, seminggu sebelum keberangkatan aku langsung booking tiket Bus Rosalia Indah ke Solo. Namun, satu hal tidak pernah aku pikirkan sebelumnya yaitu harga transportasi saat lebaran ternyata meningkat dua kali lipat lebih mahal. Sehingga, aku harus merogoh kocek yang lebih besar. jadi untuk kamu yang ingin liburan saat lebaran lebih baik dipikir-pikir lagi deh yah.
Awalnya aku ingin menggunakan Kereta Api karna tarifnya lebih murah, sayangnya aku kehabisan tiket. Entah kenapa dari dulu aku selalu gagal naik kereta api. Sepertinya aku memang ditakdirkan untuk tidak naik kereta api huhu.
Tiga hari selepas lebaran aku langsung izin ke Ibuku untuk pergi ke Solo. Aku sama sekali tidak bilang ingin melakukan pendakian sebab ibuku pasti tidak akan mengizinkan. Tapi anehnya dia selalu tahu kalau aku akan mendaki gunung -_- . *Ah naluri seorang ibu memang keterlaluan.
Singkat cerita, setelah sedikit cekcok dengan ibuku akhirnya aku diziinkan juga naik gunung hehe.
Sesampainya di PO. Bus Rosalia Indah Tajur, Bogor, aku langsung mengantri untuk melakukan check in. Saat itu banyak sekali manusia yang memenuhi loket karcis, sepertinya mereka sedang berjuang untuk mendapatkan selembar tiket mudik. Sempat sedih melihatnya karna ada beberapa orang yang kehabisan tiket Bus or even tidak jadi membeli tiket karna harga yang ditawarkan jauh lebih mahal dari biasanya.
Dari kejadian itu aku jadi mikir, sepertinya hari itu banyak banget yang melakukan mudik. Kira-kira perjalanan nanti bakal macet banget ga yah ? semoga lancar jaya.



Singkat cerita.
Ternyata perjalanan kali ini ngaret, sebab bus yang akan aku tumpangi masih belum sampai. Jadi aku harus ngebangke dulu lebih dari 2 jam di terminal. Harusnya keberangkatan dimulai dari jam 2 siang tetapi delay hingga jam 4 sore. Kraay !
Awalnya sempat kesal karna jadwal yang sudah aku susun jadi hancur berantakan, tetapi setelah melakukan perjalanan aku langsung bersyukur karna ternyata arus lalulintas tidak semacet yang aku bayangkan. Sehingga aku sudah sampai di Solo sekitar jam 3 pagi. Gila cuy cepet banget!.
Setelah sampai di Solo aku langsung melanjutkan perjalanan menuju Klaten, itu artinya aku harus menunggu kendaraan berikutnya yang bisa aku tumpangi. Sayangnya saat itu aku sama sekali tidak menemui kendaraan umum, transportasi online juga tidak tersedia. Jadilah aku ngegembel di pinggir jalan.
Tidak beberapa lama akhirnya datang bus jurusan Solo – Jogja. Awalnya aku tidak tahu harus menggunakan bus ini, tetapi setelah bertanya kesana kemari akhirnya aku tahu kalau Bus ini bisa mengantarkanku sampai Klaten. Memang benar kata nenek moyang kita dulu, malu bertanya sesat di jalan, banyak bertanya malu-maluin.
Setelah naik bus Solo-Jogja aku langsung minta tolong si mas-mas untuk menurunkanku di daerah Ceper, Klaten. Tetapi malah kelewatan beberapa meter sehingga aku harus jalan sendiri ke lokasi tujuanku yaitu basecamp Fatapala yang merupakan tempat ngumpulnya anak-anak pecinta alam yang akan melakukan pendakian ke gunung Lawu.
Sesampainya di basecamp Fatapala aku langsung shalat subuh dan repacking bareng kedua rekanku yang akan menemaniku mendaki gunung Lawu. Walau sebetulnya ada beberapa rekanku yang ingin ikut ekspedisi pendakian kali ini tetapi karna bentrok dengan mudik jadi hanya kami saja yang dapat menyempatkan diri.

PENDAKIAN GUNUNG LAWU VIA CEMORO KANDANG

Seperti halnya gunung Ciremai dan gunung Prau, Gunung Lawu juga terletak di antara tiga kabupaten yaitu Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Kabupaten Ngawi, dan Kabupaten Magetan, Jawa Timur.
Gunung Lawu sendiri memiliki dua jalur yang dapat di tempuh untuk memulai pendakian yaitu jalur Cemoro kandang di Tawangmangu-Jawa Tengah dan Jalur Cemorosewu, di Sarangan-Jawa Timur.
Berhubung kami sedang berada di Klaten jadi kami memilih jalur yang paling dekat yaitu jalur Cemoro Kandang. Namun, jika kamu ingin melakukan pendakian melalui jalur Cemoro Sewu kamu bisa berjalan lagi sejauh 200 Meter untuk sampai ke Jalur Cemoro Sewu.
Adapun jarak tempuh dari Klaten sampai basecamp Cemoro Kandang yaitu sekitar 2 jam menggunakan sepeda motor. Pegel sih harus membawa carier segede gaban sambil naik motor. Untungnya sepanjang perjalanan bisa melihat pemandangan pepohonan berwarna hijau. Jadi selain bisa menyegarkan mata rasa pegel juga bisa sedikit berkurang. Believe me it works !



Setelah berjuang melewati perjalanan yang naik turun dan berlika liku akhirnya kami sampai di pos pendakian Cemoro Kandang. Saat itu banyak sekali wisatawan yang berdatangan tetapi tidak semuanya para pendaki, sebab pos Cemoro Kandang yang berada di kaki gunung Lawu ini selain dijadikan jalur utama pendakian juga digunakan sebagai tempat wisata. Terlihat di beberapa sudut banyak keluarga yang piknik bahkan sampai ada panggung musiknya segala.
Menurut sebagian pendaki, jalur Cemoro Sewu lebih indah dan jarak tempuhnya lebih cepat. Namun walaupun begitu trek di jalur Cemoro Kandang lebih landai. Sehingga jalur ini sering digunakan warga sekitar untuk berziarah ke atas gunung Lawu menggunakan kuda. Jika kamu beruntung kamu akan melihat ritual ziarah tersebut. Sayangnya saat itu aku tidak melihat para peziarah.
Gunung lawu memang terkesan religius, terlihat di beberapa sudut gunung lawu terdapat banyak sekali tempat sakral yang digunakan untuk menyimpan sesajen. Salah satunya seperti tempat berikut yang aku temui di posko Cemoro Kandang.

BERAPA HARGA TIKET MASUK KE GUNUNG LAWU ?

Sebelum melakukan pendakian kami melakukan pendaftaran (simaksi) terlebih dahulu di Posko Cemoro Kandang dengan menyerahkan kartu identitas/KTP dan membayar tiket masuk sebesar Rp. 15.000/Orang dan parkir Rp. 7.500/malam. Menurutku harga yang ditawarkan relatif murah karna sebanding dengan fasilitas yang disediakan. Seperti kamar mandi, mushala, ruang untuk beristirahat, aula dan tempat parkir yang luas.
(Btw, harga tiket masuk ini terhitung sejak tahun 2017 ya. Jika ada yang punya info HTM terupdate langsung komentar di bawah ya)
Namun, hal yang patut disayangkan adalah kami tidak di beri lembaran peta pendakian, jadi kami harus memfoto peta secara manual di papan reklame yang ada di depan posko. Padahal di beberao gunung yang pernahku kunjungi selalu di beri lembaran peta loh.

PENDAKIAN GUNUNG LAWU PUN DIMULAI

Setelah melakukan pendaftaran barulah kami memulai pendakian tentunya dengan diawali doa bersama terlebih dahulu. Saat itu waktu menunjukkan pukul 12 siang. Walaupun matahari berada tepat di ubun-ubun tetapi cuaca di gunung Lawu sangat adem dan bersahabat.
BASECAMP – POS 1 (TAMANSARI BAWAH)
Dari Posko Cemoro Kandang menuju pos 1 jalur yang kami lalui lumayan mudah, cocok untuk peregangan otot dan pemanasan pantat hee. Namun saat turun hujan jalur ini bisa sangat licin karna sepanjang perjalanan terbuat dari tanah dan tangga dari bebatuan. Untungnya saat itu cuaca sedang bagus sehingga perjalanan kami terasa enjoy.



Saat memasuki kawasan ini kamu juga akan melewati berbagai macam pepohonan hijau yang menjulang tinggi dan air terjun ‘Studio Alam’ yang entah bagaimana wujudnya karna aku sendiri tidak jadi mampir karna keburu capek. Tetapi kalau kamu ingin tahu bagaimana keindahan air terjun Studio Alam kamu bisa langsung menuju blog ‘Bang Wisnu’ di Halaman berikut Ini.
Setelah berjalan kurang lebih 1 Jam, akhirnya kami sampai di pos 1 Tamansari Bawah. Di pos ini terdapat bangunan dari batu yang bisa dipakai untuk ngadem. Biasanya pada hari-hari tententu di Pos ini akan ada mas-mas yang buka stand untuk jualan jajanan. Kemarin saja aku sempat ngutang goreng pisang sama bakwan.



POS 1 – POS 2 (TAMANSARI ATAS)
Menuju pos 2 jalur pendakian sedikit curam tetapi masih mudah untuk di lewati. Namun, yang membuatku terheran-heran adalah sepanjang perjalanan di jalur ini terdapat banyak sekali ulet berwarna hitam. Entah dari mana ulet-ulet itu berasal tetapi fenomena misterius ini sukses membuatku Gelisah alias geli-geli basah karna uletnya bukan berjumlah satuan tetapi ribuan, Sehingga aku harus memilih tanah yang akan kupijak supaya tidak mengenai ulet-ulet tersebut.



Tidak beberapa lama tiba-tiba aku mendengar suara gemuruh dari kejauhan. Aku pikir itu suara air terjun atau pesawat lewat, tetapi setelah melihat peta ternyata itu suara kawah Condrodimuko, pantas saja dikawasan ini tercium bau kentut alias bau belerang yang sangat menyengat.
Setelah berjalan kurang lebih 2 jam akhirnya kami sampai di pos 2. Disini kami bertemu dengan 2 pendaki cilik yang berumur sekitar 10 dan 11 tahun yang sedang mendirikan tenda bersama ayahnya. Mereka tidak dapat melanjutkan perjalanan karna anak-anak itu sudah kecapean. Tetapi aku tetap salut karna saat ini banyak sekali anak-anak yang berani mendaki gunung, nah kalo kamu kapan mblo ?



POS 2 – POS 3 (PENGGIK)
Menuju pos 3 jalur pendakian lumayan banyak bonusnya (Bonus yaitu istilah pendakian jika jalur yang dilewati landai dan ga bikin encok). Disini kami juga melewati sumber mata air dan sungai yang telah mengering.
Tidak beberapa lama tiba-tiba kabut turun padahal sebelumnya cuaca sangat cerah, sehingga kami harus ekstra hati-hati karna jalur yang kami lewati seringkali tidak terlihat. Selain itu, jalur ini juga sangat sempit karna hanya dapat dilalui oleh seorang pendaki saja. Namun, hal yang membuatku tercengang adalah ternyata disebelah kanan kami terdapat tebing bebatuan yang sangaaaat tinggi dan di sebelah kirinya langsung jurang yang sangat dalam. Hal ini baru aku ketahui setelah turun gunung keesokan harinya saat kabut sudah hilang.




Sepanjang perjalanan banyak kutemui papan larangan untuk berhenti karna di jalur ini seringkali terjadi tanah longsor. Terlihat dibeberapa sudut terdapat jalanan dan jembatan yang sudah rusak oleh longsor. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa trek yang mengerikan selalu memiliki keindahan tersendiri. Buktinya di jalur ini kita dapat menikmati pemandangan hutan pinus dari kejauhan yang luar biasa indah.
Tidak beberapa lama akhirnya aku melihat Pos pemberhentian. Aku pikir sudah sampai di pos 3 ternyata hanya Pos Bayangan wkwk. Itu artinya kami harus melakukan setengah perjalanan lagi. Kerasa banget kayak di PHPin.

Dari pos Bayangan tiba-tiba kepalaku terasa puyeng, pengen pingsan saja rasanya. Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil shalat zuhur plus ashar. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan dan tiba-tiba langsung nyampe aja gitu di pos 3 Penggik haha. Seneng banget rasanya karna dari sini kami sudah bisa menyaksikan gumpalan awan yang amazing banget.



Di pos ini sudah ada beberapa pendaki yang mendirikan tenda. Seperti biasa kami beristirahat sejenak sambil curhat dengan pendaki lain. Biasanya kalau bertemu dengan sesama pendaki hal yang dibahas ga jauh-jauh dari menanyakan asal, jumlah rombongan ada berapa? dan naik dari kapan? Masih jomblo ya? Terus jadian deh.
POS 3 – POS 4 (COKROSURYO)
Pendakian menuju Pos 4 kami melewati jalur yang meliuk-liuk dan sangat terjal. Sehingga kami harus berhati-hati agar tidak kepeleset jatuh ke jurang lalu mati konyol.
Sebetulnya disini banyak sekali jalur yang dapat dilalui sampai-sampai aku kebingungan memilih jalur yang tepat karna sepanjang perjalanan tidak terdapat petunjuk arah. Namun, aku tetap memilih jalur yang aman. inget gan safety first

E tapi, pas keesokan harinya setelah turun gunung aku jadi penasaran yaudah aku lewat jalur terlarang saja. Dan ternyata treknya curam banget guys, untuk melewatinya kita harus merayap lewat bebatuan yang tinggi-tinggi banget. Kira-kira tanjakanya antara lutut bertemu dagu. Unch pantas saja dilarang. 

Btw Jangan meniru ulahku ya, terkadang aku nakal :(

Waktu menunjukkan pukul 5 sore, itu artinya impian kami mendirikan tenda di puncak gunung Lawu sebelum matahari terbenam gagal. Tetapi kami patut bersyukur karna melalui jalur ini kami sudah disuguhi pemandangan yang mengagumkan. Gumpalan awan berwarna orange disinari cahaya sunset dari ufuk barat. Sumpah gaes ini indah banget, kalian harus lihat sendiri kesini.


Tidak beberapa lama suara azan maghrib terdengar dari bawah sana. Dan kemerlap lampu perkotaan semakin mempercantik view gunung Lawu.
Sesampainya di pos 4 kami langsung mendirikan tenda. Lahan di Pos 4 memang cukup luas jadi sangat cocok untuk beristirahat, terlihat sudah banyak pendaki yang memasang tenda sambil bernyanyi dan bercengkrama satu sama lain.



Setelah memasang tenda kami langsung melaksanakan shalat maghrib dan isya dilanjutkan dengan masak-masak manja untuk makan malam. Saat itu udara terasa dingin, bahkan jaket dan sleeping bag yang telah ku pakai serasa ga guna. Sampai akhirnya sekitar jam 9 malam barulah aku bisa tertidur ditemani taburan bintang atap gunung Lawu yang keindahanya ga bisa di jelaskan.
POS 4 – POS 5 (HARGO DALAM)
Jam 4 pagi alarm ku berbunyi, itu artinya kami harus get up dan melanjutkan perjalanan untuk berburu sunrise. Setelah menyiapkan headlamp dan beberapa lampu penerang kamipun berjalan menuju pos 5 sambil merem melek karna masih ngantuk.
Jalur menuju pos 5 kebanyakan terbuat dari bebatuan, namun yang membuatku kesulitan adalah hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang. Salah banget saat itu aku memakai celana pendek supaya keliatan seksi. Argh jadi pengen balik ke tenda ngelanjutin bobo :(.

Setengah jam perjalanan akhrinya kami sampai di pos 5. Tidak seperti pos sebelumnya disini tidak ada bangunan sama sekali. Hanya ada papan penunjuk jalan dan tulisan Pos 5 hargo dalam.
POS 5 – PUNCAK HARGO DUMILAH 3.265 MDPL
Pos 5 merupakan pos terakhir di gunung Lawu, kamipun jadi semakin semangat untuk mencapai puncak. Hingga akhirnya setelah setengah jam perjalan kami sampai di puncak Hargo Dumilah yang merupakan puncak tertinggi gunung lawu dengan ketinggian 3265 MDPL. Yaay!



Saat itu belum ada pendaki lain selain kami, itu artinya kami orang pertama yang sampai ke puncak. Tapi sayangnya waktu masih menunjukkan pukul 5 pagi dan suasana masih sangat gelap. Kamipun memutuskan untuk shalat subuh sambil menunggu matahari terbit a.k.a sunrise.



Tidak beberapa lama satu-dua pendaki mulai berdatangan hingga akhirnya puncak Gunung Lawu ramai dibanjiri pengunjung. Malang sekali nasibku ingin berfoto di bawah tugu Hargo DUmilah pun harus mengantri. But so far, kami sangat bersyukur bisa mencapai puncak gunung Lawu :)




MBOK YEM, LEGENDA PENUNGGU GUNUNG LAWU

Sudah puas berselfie ria di puncak kamipun memutuskan untuk turun kembali ke tenda. Sayangnya saat itu banyak sekali pendaki yang memadati jalur pendakian jadi kami terpisah satu sama lain. alhasil aku ngegembel sendirian di gunung.
Saat itu aku sempat nyasar ke jalur yang tidak seharusnya ku lewati, yaitu ke jalur Cemorosewu. Sebetulnya pengalaman kesasar ini disebabkan karna aku tertarik dengan salah satu spot yang banyak di banjiri pendaki yaitu warung Mbok Yem di Hargo Dalem.




Gila sih sempet kaget ternyata di puncak gunung lawu terdapat warung yang menjual berbagai macam makanan. Tau gini aku ga usah capek-capek bawa logistik. So, untuk kamu yang ingin mendaki gunung Lawu ga usah takut mati kelaparan karna disini banyak warung. Dan menurut rumor yang beredar gunung Lawu juga akan membangun minimarket dan bioskop di puncaknya, hehe yakali.
Selain warung, dikawasan ini juga terdapat+ sarana toilet dan tempat peribadatan untuk menyimpan sesajen. Pantas saja dari setadi aku selalu mencium bau kemenyam. Tapi jika kamu turun sedikit lagi menuju jalur Cemorosewu kamu akan melihat pemandangan savana dan rock balance yang keren.
Wah beruntung banget untuk mereka yang mendaki melalui via Cemorosewu karna banyak spot cantik yang dilewati salah satunya seperti Candi Cetho dan padang savana yang instagram banget buat foto-foto.

Berhubung hari sudah mulai siang, akupun segera kembali ke pos 4 dan packing barang-barang untuk melakukan turun gunung. Seperti biasa turun gunung selalu lebih cepat daripada naik gunung. Sehingga aku bisa memanfaatkan waktu yang tersisa untuk wisata kuliner ke beberapa tempat makan di Solo yang enak-enak tapi harganya murah meriah. Salah satunya seperti Soto Solo yang bening tapi rasanya maknyus !

SUMBER AIR DI GUNUNG LAWU

Sumber mata air merupakan tempat penting yang kerapkali dimanfaatkan para pendaki untuk minum jikalau sewaktu-waktu persediaan air yang dibawa telah habis.

Di gunung Lawu sendiri terdapat beberapa titik sumber air yang bisa di manfaatkan. Namun, akan sedikit sulit ditemukan sebab gunung Lawu memiliki banyak sekali jalur. Tetapi itu bukan masalah besar, karna kamu dapat dengan mudah membelinya di beberapa warung yang ada di Hargo Dalem, seperti di warung Mbok Yem misalnya.

Namun akan lebih baik jika kamu sudah membawa persediaan air sendiri sebelum kamu memulai pendakian. Mengingat kelengkapan logistik saat naik gunung merupakan hal yang tidak boleh di sepelekan.

KALKULASI WAKTU PENDAKIAN VIA CEMORO KANDANG

Pos 1 - Pos 2 (1 Jam)
Pos 2 - Pos 3 (2 Jam)
Pos 3 - Pos 4 (2 Jam)
Pos 4 - Pos 5 (1 Jam)
Pos 5 - Puncak (1 Jam)
Overall, aku seneng banget bisa naik gunung Lawu walaupun harus menguras uang, waktu dan tenaga yang sangat besar. 

Rencananya pendakian berikutnya aku ingin menuntaskan Triple S dulu yaitu Sindoro, Sumbing dan Selamet. So, doakan aku ya kawan-kawan semoga impianku bisa tercapai.

Okedeh, sampai jumpa di cerita pendakian berikunya. Dan jangan lupa tonton video Pendakian Gunung Lawu berikut ini supaya kamu dapat menikmati keindahan gunung Lawu lebih real lagi. Pastikan juga kamu subscribe dan like video ku yah mueheh.



Jangan mendaki gunung agar dunia bisa melihatmu. 
Naiki ia agar kau bisa melihat dunia.
- @khairulleon -



37 comments

ya Allah jadi selama 7 jam jalan kaki?? 😂 kalau disuruh milih mending aku sih ke pantai aja yang spotnya gak kudu naik2. tapi pemandangan di gunung(nya) juga mengagumkan 😍

Reply

wah, kalau di liat-liat banyak candi gitu yah . .

dan ternyata di atas awan ada awan lagi . .
baru liat di sini

Reply

Dulu saya naik gunung lawu via candi cetho,pemandangan hitam pekat karena lawu sedang terbakar,savana yang kami inginkan lenyap sudah

Reply

1. Ada canndinya banyak aku suka
2. 7 jam ya hmm harus semangat
3. Eh Ada warung si mbok nya kuat banget ya
4. Wasssalamualaikum

Reply

Gyaaa... aku bayangin ulet2 yg ribuan itu kok merinding horor ya

Reply

Lah, kemaren kabar-kabar ke solo nya telat bang, tau gitu kan saya join :( dulu pas maen ke lawu cuma mampir ke air terjun studio alam sama bulak peperangan doang, belum sampai puncak

Napa ngga nunggu temen-temen di solo aja? Daripada bolak balek solo-klaten-solo lagi hehe

Uletnya bikin mrinding itu....

Reply

Aroma mistisnya terasa sekali ya kang, apa gak takut tuh mendaki di gunung lawu?

Reply

bener-bener anak gunung nih kamu haha.

Aku kemarin aja pas main ke candi gedong 9 aja gak kuat pas jalan menuju puncak candi, apalagi disuruh naik gunung sampai ke puncak hehe.

Itu kok ada pos bayagan emang bedanya apa sama pos biasa bro?

maklum aku gak tahu apa-apa tentang dunia pergunungan.

Btw, bagaimana adegan cekcok sama ibumu haha kok gak ditulis dialognya (bercanda)

Reply

Mantaaapp. I like it so much. Ceritamu detail, informasinya juga padat. Narasi dan deskripsi mencukupi, foto2nya bikin ngiri, tips2 nya mumpuni.
Di tengah alam kita bisa belajar banyak ttg kehidupan ya. Saya benar2 jadi ingin mendaki suatu saat, gara2 baca tulisan leon ini.

Reply

luar biasa kalau sudah menjadi pencinta alam , gunung mistispun di daki. -_-.
indah sekaligus seram mas

Reply

Sebelumnya, saya paling ketawa di awal post karena penyesuaian waktu dgn "partner hiking yg sibuk kawin". Hahahah

Tapi emang baca post ini jadi berasa liburan tanpa mesti jalan. Hahaha jelas banget nyeritain dari mulai naik bus karena selalu kehabisan tiket kereta, dan pas otw mendaki sampe nglewatin pos 1-5 yg curam dan banyak larangan berhenti karena rawan longsor. Daaaaaan, demi apa pemandangannya indah banget. 😍

Semoga tercapai naik Sindoro, Sumbing dan Selamet yaaa. :)

Reply

Aku senang lihat pemandangan di atas awan ini. Terasa terwakili. Soalnya beberapa bulan yang lalu aku gagal mendaki ke Lawu, karena ada kendala beberapa hal. Mudah-mudahan dilain kesempatan bisa seperti mas Khairul nih. Bisa mencapai puncak, meskipun menelan biaya, tenanga. Tapi aku selalu merasakan puasnya ketika sudah sampai puncak.

Merasa harus lebih giat lagi mengaga alam. Aku terkadang suka kesel kalau bawa temen, tapi dia susah di bilangin. Mialnya suka coret2 gitu. Nulis nama n love love gitu.. Duh,,,

Waktu itu di sumbing, temanku sampe kapok. Gara-gara terkenal badai disaat hujan lebat. Bahkan tenda pun sampe terbalik mas.

Kalau di Sindoro sendiri memang ada batasannya, misal dari pagi cuma sampe jam 11. Karena belerangnnya sangat menyenant. Kabar terakhir aku mendaki ke sindoro sudah aman. Dulu katanya suka ada preman atau begal gitu. Suka bawa2in carier dll yang pendaki bawa.

Dan suka ada babi yang suka ganggu. Tapi sudah aman sekarang. Kalau mendaki di malam minggu. Suka ada yang jaga disana mas. Dan bahkan menjual minuman, satu botol aqua besar 10k. Wajar karena jualan di atas butuh perjuangan..hehe

Dan beberapa pekan terakhir mendaki, aku suka nemuin ada warung gitu di atas. Seperti yang di ceritakan mas Khairul ini. Dan, waktu aku di gunung andong juga begitu. Sampe aku gak bawa tenda malah. Kaya maen biasa aja gitu..wkwk

Karena teman tahu ada warung gitu, jadi tidurnya di warung. Dan kebetulan waktu itu hujan, kami tidur di warung.. hehe

Next time kalau aku ke Lawu sudah ada gambaran seperti apa disana.. :)

Reply

7 Jam jalan kaki? Kaki gue ngilu kwkwkkwk

Reply

Pemandangannya indah yaa nggak sia-sia...epik banget warungnya, jangan2 warung tertinggi di Indonesia jangan2 yaa..

Reply

Pertama greget baca 7 jam jalan kaki, bayanginnya aja cukup linu haha

Kedua liat ulet2 item yg banyak gitu, jenis pokemon apakah mereka, hiii merinding.

Ketiga itu awannya bisa dicomot gak rul, kalo di pesawat kan liat Awan gak bisa mampir buat pegang haha

MasyaAllah, pemandangannya indah banget. Jadi pengen mendaki. Pasti lihat kuasa Allah yg indah gt Kita banyak merenung untuk bersyukur. Btw, semoga di pendakian 3 gunung selanjutnya tercapai dan gak Salah kostum lagi hehe

Reply

7 Jam mah sebernter Teh Septi.
Aku malah pernah sampe 13 jam ga sampe-sampe puncak loh.

Kalo awan ya sama kayak kita di pesawat teh, ga bisa di comot apa lagi di makan :)

Reply

Wkwkw ini bukan warung tertinggi ko teh,
diatas warung masih ada warung,
Entah digunung apa dulu aku lupa :P

Reply

Sebentar itu faqih.
asli deh naik gunung itu kalo udah nyampe puncak ga bakal kerasa capek :)

Reply

Kamu ada tulisan waktu ke gunung Andong ga ?
aku mau baca dong.
Aku ada rencana mau ke Andong juga soalnya,
tapi entah kapan :)

Reply

Emang betulan teh zakia aku ga boong,
Teman-temanku hampir semuanya sudah nikah.
cuma aku yang belum karna sibuk main wkwk

Nanti sering-sering mampir disini ya teh.
pasti berasa jalan jalan terus :)

Reply

Sebenernya ga mistis-mistis amat si kang.
Abisnya aku kebingungan kasih judul wwkwk

Reply

HAha kayaknya postinganku sempurna banget padahala mah biasa aja tej Dipi.
Tulisan teh Dipi masih lebih bagus ko :)
Semoga terwujud teh pendakianya

Reply

Pos bayangan itu bukan pos sebenarnya alias bayangan. Bingung ya ? sama.
Biasanya nama-nama pos di gunung emang unik, aneh kadang lucu.
Salah satunya ya nama pos ini.
Jadi untuk siapapun yang menciptakana nama pos ini kalian sungguh luar biasa

Reply

Engga takut kang.
Suasana di semua gunung sama aja kang,.
aku ga pernah dapet hal hal yang mistis :)

Reply

Iya telat banget aku ngabarin.
dan aku pikir kamu udah pernah ke puncak Lawu to ? wkwk
Mungkin lain kali bisa kesana lagi dan kita nanajak bareng :) ..

Reply

Ngebayanginya aja udah geli gimana liat langsung mbaaak ?

Reply

Makasih kang sudah di simpulkan wkwk

Reply

Iya betul beberapa tahun lalu banyak yang mengeluh candi Cheto sangat hitam karna bekas kebarkaran.
dan pas kebakaran melanda candi Cetho para pendaki ga bisa naik.

Reply

ahh jadi kangen naik gunung lagi..
dulu juga mendadak ke gn. lawu.. pdhl niat awalnya mo ke merbabu..

Reply

Kalo dulu aku kebalikanya teh.
Pengenya ke gunung Lawu eh malah ke Merbabu.
Btw, tulisan Merbabu ku ada di postingan sebelumnya loh :) *kode

Reply

ya seperti itu

Reply

7 jam bisa dibilang waktu yang sebentar teh.
Aku pernah 13 jam naik gunung Pangrango ga nyampe nyampe.

Reply

Pendaki sejati memang kau bro, gue daki 5 jam aja mungkin kalau tanpa pengalaman dan kesiapan udah pasti ko tak berdaya. Di pendakian seperti itu memang banyak hal tak terduga gitu yak bro, contohya ulat hitam.. unik sih, tapi gimana gitu

Reply

tiap gunung emang punya keunikan masing masing.
Tapi untuk gunung yang satu ini aku patut geli sama ulet item.
memang gimana gitu :v

Reply

Suka banget sama awannya ... duh, masih bisa naek gunung kagak ya gue

Reply

Aduh 7 jam mendaki ya. Aku sejam dua jam sudah ngos-ngosan. Tapi mupeng banget sama pemandangannya. Langit dan gunungnya, terbayar sudah rasa capeknya ya. Sukak fotonya!

Reply

Ya ampun Rul kamu ke Solo ya. Harusnya kita ketemuan. Eh
Btw aku jg suka naik rosalia, tapi seringnya kereta sih. Kalau lebaran mah harganya emang naik hd jangan kaget ya hahaha
.
Meskipun gunung lawu dekat tapi aku nggak pernah ke sana. Lihat2 foto km jadi pengin bgt lihat awan. Tapi aku malas naiknya huhubu

Reply

Post a Comment

Khairulleon, Travel blogger dari kota hujan.
Jangan lupa berkomentar.
Blogger yang bijak selalu meninggalkan jejak :)

Kepoin sosmedku ▶ @khairulleon